Home Blog Page 239

Allen Eugene Paulson, Penjual Koran Pembangun Pabrik Gulstream

Tokoh kita kali ini memiliki latar belakang yang menurut orang Jawa sangat memprihatinkan dalam upayanya mewujudkan kesuksesan. Allen saat itu masih berusia 13 tahun, tapi sudah mulai mencari uang sendiri sebagai penjual koran dan melakukan pekerjaan kebersihan di hotel lokal sampai dia pindah ke California pada 1937.

Di California, laki-laki kelahiran 22 April 1922 ini kemudian bekerja di peternakan sapi perah untuk mengumpulkan biaya sekolah. Setelah menyelesaikan sekolahnya pada 1941, ia bekerja sebagai montir amatir di Trans World Airlines (TWA).

Hasil kegigihannya mulai nampak pada 1943-1945 saat ia menjabat di US Army Air Corps sembari melanjutkan satu tahun studi teknik di University of West Virginia. Setelah Perang Dunia selesai, ia kembali ke TWA, kali ini sebagai insinyur penerbangan dan mengguna­kan GI Bill of Rights untuk mendapatkan lisensi pilot maupun mekaniknya.

Memulai Bisnis Suku Cadang Pesawat Bekas

Pada 1951, Allen meninggalkan TWA untuk membangun perusahaannya sendiri, yaitu California Airmotive Corp. Dia memulainya dengan membeli mesin Wright R-3350 dari Boeing B-29 dan menjual bagian-bagiannya untuk airlines.

Di era 1955, ia membeli pesawat pertamanya yaitu tiga pesawat Convair 240 untuk dijual kembali. Pesawat tersebut “dibedah” dan dilepas semua suku cadangnya.

Perusahaannya kemudian menjadi salah satu pemasok suku cadang (terutama suku cadang bekas) terbesar di dunia. Pada saat itu ia memiliki 35 Lockheed Constellation dari berbagai model, 22 Douglas DC-6 dan DC-7 serta empat pesawat yang lain di Fox Field, Lancaster, California pada 1970-1971.

Allen kemudian membeli Pacific Airmotive Corp di Burbank dan mulai mengkonversi berbagai jenis pesawat  penumpang menjadi pesawat kargo. Beberapa Lockheed Constellation dibangun kembali oleh perusahaan Paulson dan diubah menjadi pesawat kargo. California Airmotive kemudian berganti nama menjadi America Jet Industries pada 1973.

Membentuk Gulfstream Aircraft Corp

Pada 1970 Allen mulai mengembangkan Gulfstream America Hustler, sebuah perusahaan pembuat pesawat pribadi yang meliputi propeller (baling-baling) untuk digunakan di landasan pacu pendek dan jet. Konsep ini awalnya didukung mesin Pratt & Whitney PT6 di hidung pesawat dan dilengkapi dengan Teledyne Continental Turbine Unit  di bagian ekor. Pesawat pertama terbang pada 11 Januari 1978, tetapi tidak pernah diproduksi dalam jumlah   banyak.

Sebagaimana dalam penjelasan Gulfstream Aerospace Corporation, ia kemudian membeli Grumman America dari Grumman seharga US$52 juta, yang akhirnya membentuk Gulfstream America Corporation.

Pada 1982, ia membeli divisi pe­nerbangan Rockwell International di Oklahoma dan dikombinasikan dengan Gulfstream America untuk membentuk Gulfstream Aerospace. Allen kemudian mengubah perusahaan menjadi produsen pesawat jet pribadi terbesar di dunia. Penjualan meroket hingga  US$1 miliar per tahun.

Sumber

Adi Soemarmo Wirjokusumo Perintis AURI dan Pendiri Sekolah Radio Telegrafis Udara

Siapa tak mengenal tokoh pahlawan bangsa dan salah satu perintis AURI yang satu ini. Namanya semakin harum, seiring meningkatnya kualitas dan status bandar udara yang menggunakan namanya.

Adi Soemarmo Wirjokusumo adalah salah satu dari tiga perintis AURI yang gugur dalam peristiwa jatuhnya pesawat udara Dakota VT-CLA yang ditembak jatuh oleh pesawat udara Belanda pada 29 Juli 1947.

Adi Soemarmo pria kelahiran Blora 31 Maret 1921, sebelum bergabung di Dinas Perhubungan Jawatan Penerbang­an adalah mantan flight radio operator dari Netherland Eart Ladius Air Force (NELAP) yang bertugas di Australia. Adi Soemarmo kembali ke Indonesia dan bergabung dengan PHB-AURI.

Adi Soemarmo adalah pendiri sekolah Radio Telegrafis Udara yang pertama kali di lingkungan Angkatan Udara dan merupakan embrio dari Sekolah Radio Udara di kemudian hari.

Peran radio AURI sangat besar karena mampu membuka mata dunia terhadap perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.

Namun kariernya di Angkatan Udara begitu singkat, Adi Soemarmo mendapat perintah menjadi Radio ­Operator pesawat VT-CLA yang terbang ke India dalam upaya mengambil bantuan obat-obatan yang diberikan oleh Palang Merah Malaya dan India.

Pada 29 Juli 1947, pesawat udara Dakota VT-CLA pulang menuju Maguwo, Yogyakarta. Pesawat udara Dakota dikemudikan oleh Pilot Alexander Noel Constantine (Australia) dan Co-pilot Roy L.C. Hazlehurst bersama Komodor, serta Juru Teknik  Bhida Ram berkebangsaan India. Dalam pesawat udara Dakota terdapat penumpang lain yaitu Beryl Constantine (Inggris) istri Alexander Noel, Zainul Arif, Abdul Gani Handonotjokro, serta tiga tokoh AURI, yaitu Komodor Muda Udara Adi Sutjipto, Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh, Opsir Muda Udara I Adi Soemarmo.

Sumber

Prakarsa dari Henry Royce dan Charles Stewart Rolls

Para pencinta mobil mewah tidak asing lagi dengan mobil sporty mewah dengan desain yang ele­gan plus banderol harga yang fantastis. Kualitas mesin buatan Rolls Royce memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Terbukti, mobil ini laris terjual, baik di Amerika maupun Eropa.

Awalnya, mereka hanya fokus mengembangkan mesin untuk mobil. Namun, seiring berjalannya waktu, me­reka juga ikut terjun dalam pembuatan mesin untuk pesawat jet Boeing ataupun Airbus.

Kesuksesan perusahaan ini tak lepas dari dua sosok yang sekaligus menjadi pendiri perusahaan, Henry Royce dan CS Roll. Bagaimanakah kedua figur ini memulai usaha bisnisnya?

Henry Royce, Keluarga Pengusaha Tepung

Laki-laki berkebangsaan Inggris ini lahir dengan nama lengkap Frederick Henry Royce (27 Maret 1863 – 22 April 1933). Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara keluarga yang memiliki usaha tepung.

Henry Royce yang masih berusia 9 tahun bekerja sebagai juru telegram dan penjual koran. Ia hanya sempat mengenyam pendidikan formal selama setahun. Pada saat usianya 14 tahun, bibinya mengarahkan Henry kecil untuk magang di Great Northern Railway Company, perusahaan kereta api yang bisnis utamanya memproduksi lokomotif. Di sini ia menemukan minatnya pada bidang permesinan setelah bekerja selama tiga tahun.

Pada 1882, ia pindah ke London Electric Light and Power Company, bekerja sebagai pembuat lampu untuk seni dan umum. Di sela-sela kesibukannya, Royce masih menyempatkan diri untuk mengikuti kuliah sore yang diselenggarakan di City and Guilds Institute.

Sang bos yang kemudian terkesan dengan dedikasi dan keseriusan Royce, menunjuknya sebagai kepala divisi mesin elektrik di Lancashire Maxim and Western Electric Company, perusahaan yang merupakan cabang dari London Electric Light. Royce diberi mandat untuk memperkenalkan penerangan listrik di Liverpool, namun kekecewaan mendalam harus kembali dirasakan setelah perusahaan ini dinyatakan bangkrut dan dilkuidasi, membuat ia harus kembali kehilangan pekerjaannya.

Sumber

Layar Ketepatan Waktu Keberangkatan dan Kedatangan Pesawat

Pengalaman perjalanan Anda kini semakin mudah dengan pengenalan sistem Flight in Sight, yang menyediakan informasi real time (tepat waktu) pada pesawat tiba (kedatangan), di pintu terminal kedatang­an maupun keberangkatan.

Informasi penerbangan tersebut ditampilkan pada monitor resolusi tinggi yang bergantian antara status penerbangan dan radar cuaca yang disediakan melalui Destination Cuaca Live. Layar menampilkan penerbangan termasuk ketinggian, kecepatan, jarak dari pesawat, serta waktu kedatangan sesuai jadwal.

Destination Weather Live menyediakan peta cuaca nasional dan peta lokal tujuan. Ini menunjukkan bagaimana cuaca dapat mempengaruhi keberangkatan dan kedatangan waktu penerbangan.

Sistem baru ini juga meningkatkan layanan pelanggan untuk menjawab pertanyaan yang lebih spesifik saat mengurus check-in di setiap penerbang­an.

Tampa International Airport, Amerika Serikat adalah pelopor untuk teknologi ini, juga telah memperbarui sistem WiFi, sehingga lebih cepat dan lebih banyak pengguna untuk meng­akses.

Didukung oleh FlightView, Flight in Sight adalah inovasi terbaru di airport yang bertujuan menyediakan wisatawan melalui self service (layanan sendiri). Dengan menunjukkan posisi pesawat masuk secara visual pada peta, Flight in Sight memungkinkan wisatawan untuk melihat persis di mana pesawat berada dan seberapa cepat kemungkinan tiba tanpa harus bergantung pada waktu keberangkatan yang disesuaikan oleh perusahaan penerbangan.

Doug Wycoff, Manager of Innovation & Infrastructure Support Tampa International Airport menyatakan sistem ini membantu pelanggan untuk memastikan keberangkatannya atau bagi yang menunggu akan mengetahui kapan pesawatnya tiba. Selama ini, rasa kurang nyaman selalu dirasakan jika penerbangan mengalami delay.

Sumber

SmartPath Sistem Pendaratan Pesawat Berbasis Satelit

Pada 2 Juli lalu, SmartPath telah dicoba ke dalam layanan Bandar Udara Internasional Sydney – yang pertama di belahan bumi selatan.

The SmartPath Technology atau Ground Based Augmentation System (GBAS) adalah pendekatan pendaratan dengan sistem yang dilengkapi lahan satu meter dari garis tengah landasan pacu dalam kondisi jarak pandang rendah.

Chief Executive Officer Airservices Acting Mark Rodwell mengatakan bahwa teknologi ini digunakan untuk meningkatkan keakuratan penentuan posisi pesawat dan dipercaya bisa memandu pesawat sepanjang pendaratan dengan tepat dan bisa diprediksi dengan mengoreksi Global Positioning System (GPS) berdasarkan kesalahan dan transmisi data langsung ke sistem manajemen penerbangan pesawat udara.

“Dengan mengintegrasikan SmartPath dan operasi berbasis GPS lainnya dengan manajemen lalu lintas udara, Airservices difokuskan memberikan sistem navigasi udara berbasis satelit baru untuk abad 21,” kata Rodwell.

Jika diperlukan, SmartPath mampu menyediakan hingga 26 instrumen simultan pendekatan dalam radius 42 km dari bandar udara. Sistem ini juga akan mengurangi perawatan dan menyediakan kalibrasi lebih efisien daripada sistem instrumen pendaratan tradisi­onal yaitu Instrument Landing Systems.

Sumber

APC, Pemeriksaan Paspor Tanpa Antre

Kabar dipindahkannya counter imigrasi di Terminal 3 ke Terminal 2 bisa jadi bakal menjadi mimpi buruk bagi penumpang. Walaupun tidak jadi dipindahkan, belakangan yang masih dirasakan oleh pengguna jasa terutama bagi yang akan terbang ke rute internasional adalah proses ke­imigrasian tetap lama dan penumpang harus antre panjang.

Namun, pengalaman buruk itu tampaknya segera berakhir jika Indonesia telah menerapkan Automated Passport Control (APC), sebuah teknologi baru dalam mempercepat proses imigrasi.

APC adalah layanan gratis dan tidak memerlukan proses pendaftaran atau keanggotaan. Alih-alih mengisi lembaran saat diproses imigrasi tradisional, penumpang yang telah memenuhi syarat dapat langsung melanjutkan ke Kiosk self service di area kontrol paspor.

Siapa yang berhak menggunakan APC? Layanan ini dapat digunakan oleh semua pemegang paspor Amerika Serikat dan Kanada, serta wisatawan internasional yang telah mendapatkan persetujuan dari Electronic System for Travel Authorization (ESTA).

Sumber

Katakan “Ya” untuk Traveling

Uang, maukah Teman Pejalan memilikinya lebih dari yang dipunya sekarang? Siapa yang tidak mau, ketika berbicara tentang traveling, uang juga menjadi faktor penting. Faktor tersebut juga menjadi alasan bagi seseorang untuk menahan diri tidak melakukannya. Alasan terlahirnya pemikiran “saya terlalu miskin untuk traveling” dan akhir cerita tidak pernah mencobanya sama sekali.

Kepercayaan bahwa melakukan perjalanan wisata itu mahal bisa saja terlahir dari luar diri seseorang. Misalnya karena tradisi keluarga, iklan pariwisata yang sering menampilkan resor-resor bintang lima atau agen-agen travel yang menjual jasa sehingga jalan-jalan kesannya selalu memerlukan uang dalam jumlah banyak.

Ide-ide ini menciptakan hambatan dalam pikiran untuk seringnya bilang “tidak” dibanding kata “ya” pada saat merencanakan liburan.

Memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam budgeting untuk merencanakan perjalanan. Ada batas mengenai mahal dan murah. Selalu ada situasi seperti kesehatan, masalah visa atau faktor lainnya.

Tidak semua orang juga dapat atau ingin keliling dunia. Tapi apa yang sebenarnya membedakan antara seorang pejalan dan non-pejalan? Keyakinan.

It only takes two to tango; Y and A!! Foto: Vieta Diani

Ya, permasalahan utama yang membuat orang untuk tinggal saja di dalam kotak amannya bukan terletak pada uang, tapi pola pikir. Orang yang pola pikirnya tidak memiliki keyakinan akan selalu mencari alasan untuk tidak melakukan hal yang sebenarnya mereka tahu bahwa itu sebagian cara untuk mensyukuri kehidupannya.

Ini bukan hanya mengenai traveling saja. “Saya kan gak tinggi, gak mungkin jadi pramugari!”, “Tempat gym-nya terlalu jauh, makanya saya gak latihan!”, “Oh satu kue lagi gak bakal ngerusak diet saya kali ya!” dan seterusnya. Jika dari bangun tidur sudah berpikir “Saya tidak bisa melakukan ini”, maka tidak akan pernah.

Selanjutnya hanya akan datang seribu alasan lain yang akan memperkuat keyakinan untuk menolak mengapa traveling itu sangat mungkin dilakukan.

Sebaliknya, apa yang membuat seorang pejalan selalu dapat melakukan traveling? Keyakinan kalau mereka bisa. Tidak semua pejalan merupakan orang-orang dengan kelebihan harta, usia muda atau dalam kondisi tubuh yang dikategorikan bugar. Saya dapat jamin, pasti akan selalu ada hambatan.

libursehatcontent

Tapi dengan satu bahan rahasia, yaitu pola pikir, mereka akan selalu menemukan cara untuk membuat perjalanannya terjadi. Jika traveling adalah memang impian, gantilah ketidakyakinan yang membuat diri jauh dari target itu dengan kalimat “Ya, saya yakin bisa traveling!” dan mulailah cari cara. Tidak peduli seberapa kecil, tapi membuka jalan besar menuju ke arah perjalanan yang dicita-citakan.

Setiap kata “ya” akan saling membangun pondasi keyakinan untuk bisa traveling. Jika setelah mengganti pola pikir dan masih melihat uang sebagai rintangan nomor satu, coba cek kembali pengeluaran sehari-hari.

Berapa banyak yang dihemat jika berjalan kaki atau naik kendaraan umum ke kantor atau kampus dibanding bawa kendaraan pribadi? Bagaimana jika tidak perlu ada acara ngopi sore di Starbucks? Bagaimana jika memasak sendiri dibanding jajan di luar? Bagaimana jika menjual kembali barang-barang yang jarang digunakan?

Atau bisa juga dengan cara menambah penghasilan bulanan dengan menyewakan kamar lebih di AirBnb, mengumpulkan frequent flier miles, menguji keberuntungan melalui kuis yang berhadiah liburan gratis atau bisa saja mencari kerja di luar negeri (ya, ini sangat mungkin dilakukan!).

temanpejalan

Setelah memulai kata “ya”, pelan tapi pasti akan tercipta sebuah siklus kebiasaan baru untuk selalu fokus agar perjalanan kita berada dalam jangkauan. Jika telah melakukan traveling, tidak akan ada lagi pemikiran sempit yang beranggapan kalau jalan-jalan itu bikin miskin. Yang dilihat hanyalah peluang.

Peluang untuk melihat tempat baru, berjumpa teman baru, mendapat pengalaman baru yang justru membuat diri semakin kaya. Jadi, jika ini memang yang diimpikan, yuk bersama-sama katakan “ya!” untuk traveling.

Sumber

Langkah Mudah Memotivasi Diri untuk Traveling

Seseorang dapat mencapai apapun yang diimpikan jika memiliki motivasi. Salah satunya seperti melakukan traveling. Tapi bagaimana caranya selalu menjaga motivasi  untuk terus melakukan perjalanan, ketika kita sibuk bekerja atau aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga dan teman-teman? Ada beberapa langkah mudah memotivasi diri untuk traveling yang dapat kita praktekkan.

Belum lagi jika tidak banyak mendapat dukungan dari orang sekitar untuk melakukan hobi yang satu ini. Apakah Teman Pejalan akan tetap melanjutkan impian perjalanan hingga jadi kenyataan? Atau malah berhenti di tengah jalan?

Motivasi ibarat seperti baterai pada smartphone di tengah era informasi yang serba cepat ini. Tentunya banyak dari kita yang merasa gelisah ketika melihat tanda-tanda baterai ponsel akan segera habis, kita akan kehilangan kabar terbaru, terputus hubungan dengan media sosial. Motivasi adalah baterai yang harus selalu terisi penuh. Jika tidak, kita pun perlu merasa gelisah karenanya.

Pepatah bilang, “Travel far enough, you meet yourself”. Ketika ide-ide inspiratif tentang travelingmuncul liar di kepala, terkadang kehidupan memaksa untuk jalan di tempat saja, fokus si motivasi untuk mengunjungi tempat impian menjadi berbeda haluan.

Satu yang pasti tentang traveling, memang selalu tidak akan ada waktu yang tepat untuk melakukan hal ini. Apalagi jika selalu dikaitkan dengan urusan pekerjaan. Selalu ada alasan untuk menundanya.

Tapi hal pasti lainnya, suatu saat nanti kita pasti akan kehabisan hari esok. Traveling-lah selagi bisa. Dan untuk hidup hari ini, gunakanlah beberapa tips berikut untuk membantu Teman Pejalan agar tetap termotivasi melakukan perjalanan selanjutnya:

membuat perencanaan

Lakukan riset untuk destinasi yang kamu tuju

Terus mencari informasi melalui buku, internet atau bertanya kepada orang lain yang pernah memiliki pengalaman tentang tempat impian yang ingin dikunjungi dapat membantu untuk terus menyalakan api motivasi. Sampai akhirnya, Teman Pejalan akan berada di sana.

Mungkin hal ini terdengar klise, tapi ini yang saya alami sendiri sampai akhirnya ide traveling saya terwujud. Terus memikirkan tentang destinasi yang ingin dilihat sepanjang waktu dapat membuat itu terjadi.

 

motivasi3

Curahkan waktu untuk membuat rencana perjalanan

Hal-hal selalu saja datang, bukan? Berencana untuk liburan akhir tahun, tiba-tiba tidak terasa akhir tahun datang, dan kita sedang terbenam dalam kesibukan. Atau mungkin hari ini adalah hari dimana Teman Pejalan meniatkan diri untuk memesan tiket pesawat tapi tiba-tiba teringat kalau jemuran belum diangkat. Sekejap lupa. Hari ini berganti besok dan seterusnya, niat tetap tertunda.

Solusinya? Jujurlah bahwa sebenarnya kita tidak sibuk-sibuk amat ketika kamu dapat mengecek akun Facebook lima kali sehari. Nah, di waktu luang sempit ini, teruslah berkonsisten untuk mencurahkan perhatian menyusun rencana perjalanan. Lakukan terus menerus hingga menjadi kebiasaan. Ini juga dapat menjadi “alat” untuk refreshing sejenak dari padatnya aktivitas lho!

 

baca buku

Baca buku & tonton film yang dapat menginspirasi untuk traveling

Setelah menonton filmnya terlebih dahulu (yang kemudian sedikit saya sesali), saya memutuskan untuk membeli dan membaca buku Tracks karya Robyn Davidson. Melalui buku, imajinasi saya jadi jauh lebih bebas membayangkan perjalanan yang dilakukan oleh sang penulis melintasi gurun Australia dengan hanya ditemani seekor anjing dan empat ekor unta.

Saya sedang menyiapkan perjalanan gap year saya menuju benua Australia yang tidak terasa tinggal dua bulan lagi hingga hari keberangkatan. Membaca buku yang berkaitan dengan perjalanan yang diimpikan dapat menjaga motivasi sekaligus menambah pengetahuan.

Ketika saya selesai membaca buku, khususnya memoar perjalanan seseorang, saya selalu merasa lebih terinspirasi dan siap menjelajah tempat yang berbeda. Siapa tahu cara ini ingin dicoba Teman Pejalan, blibur.com punya daftar 5 buku yang bisa dijadikan ‘teman’ sebelum atau ketika traveling.

Baca travel blogs dan “nongkrong” di forum traveling

Membaca petualangan dari pejalan lain dapat memberikan motivasi di kepala kalau sebuah perjalanan ternyata lebih mudah dilakukan dibanding yang kita pikirkan selama ini. Travel blog akan membuka wawasan Teman Pejalan yang membutuhkan tips dan saran mengenai sebuah seni perjalanan, mengetahui tempat-tempat baru yang belum pernah didengar.

Hingga suatu hari kamu akan merasa bosan hidup dalam petualangan orang lain kemudian termotivasi untuk traveling dan membuat cerita perjalanan versi diri sendiri.

Bergabung dalam sebuah forum pejalan juga akan membantu untuk menghalau ide-ide dari orang yang ingin Teman Pejalan berdiam diri saja dalam kotak aman. Melalui forum sejenis ini, kamu akan memahami bahwa perjalanan jangka panjang itu sangat mungkin dilakukan dan bisa oleh siapa saja.

Pelajari  beberapa bahasa

Bergabung dan ambillah kelas bahasa yang sekiranya dapat berguna untuk impian traveling Teman Pejalan. Ketika sudah memulai belajar bahasa, Teman Pejalan akan merasa benci untuk membuang-buang percuma kemampuan baru tersebut.

Satu-satunya cara untuk menggunakannya adalah dengan selalu memotivasi diri untuk berhasil mengunjungi tempat di mana bahasa tersebut dipakai dalam percakapan sehari-hari. Selamat termotivasi!

Sumber

Memilih Gadget yang Tepat Ketika Traveling

“Gadget apa saja yang harus saya bawa ketika traveling?” “Smartphone, tablet atau laptop?”Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seringkali terlontar pada saat kita berkemas sebelum traveling. Ada banyak hal perlu dipertimbangkan dalam memilih gadget yang hendak dibawa Teman Pejalan.Beberapa diantaranya seperti fitur, ukuran, berat, harga, asuransi dan faktor keamanan.

Teman Pejalan ingin seringkas mungkin ketika berkemas, tapi di sisi lain untuk menyeimbangkan pilihan gadget yang kamu bawa juga membingungkan. Pada akhirnya, kamu sering menemukan diri membawa terlalu banyak adaptor padahal belum tentu semua gadget terpakai.

Berikut adalah pro dan kontra dari membawa smartphone, tablet atau laptop ketika sedang berada dalam sebuah perjalanan. blibur.com coba memberikan beberapa rekomendasi yang mungkin dapat bermanfaat bagi Teman Pejalan. Selamat memilih!

Smartphone 

Pro:

• Kemudahan fitur dalam satu gadget. Smartphone menggabungkan fungsi kamera, peta, pemutar musik, kalkulator, jam alarm hingga senter.

• Memudahkan untuk terhubung dengan dunia luar secara online, bahkan ketika tidak menggunakan paket data. Pada masa sekarang, hampir setiap kafe, bandara bahkan taman umum menyediakan fasilitas wi fi. Teman Pejalan tidak perlu merasa tidak up to date walaupun sedang berada jauh dari rumah.

• Ada banyak aplikasi offline yang juga dapat berguna ketika sedang traveling. Aplikasi tersebut berguna diantaranya untuk mengkonversi kurs, membantu navigasi dan translasi bahasa, meringkasitinerary atau mengetik catatan yang tentunya dapat memudahkan aktivitas Teman Pejalan.

Kontra:

• Kontra paling utama dari smartphone adalah daya tahan baterainya. Sisi yang menganggu dari kelengkapan fitur adalah sangat jarang untuk menemukan smartphone yang mampu bertahan seharian tanpa dibantu dengan power bank. Seringkali gadget tersebut sudah tak menyala bahkan sebelum tiba di tempat istirahat setelah seharian mengeksplor destinasi traveling yang baru.

• Walaupun pada masa sekarang layar smartphone sudah semakin lebar, ukuran 5 inchi bukanlah ukuran ideal untuk menikmati sebuah film atau membaca e-books.

• Tidak semua tampilan situs yang ingin di-browsing disesuaikan dengan ukuran mobile. Hal ini tentunya bisa sangat mengganggu.

• Mengetik SMS atau chatting dan update status di Facebook dapat teratasi dengan baik olehsmartphone. Tapi jika Teman Pejalan menginginkan lebih dari sekedar hal-hal tersebut, keterbatasansmartphone dapat membuat frustasi.

• Beberapa merek smartphone memiliki harga yang terlalu berlebihan bahkan sama dengan harga sebuah laptop.

Rekomendasi:

Ada banyak alasan kenapa smartphone selalu menjadi pilihan gadget pertama untuk dibawa sepanjang traveling. Ponsel pintar memiliki semua fitur yang dapat meringkas lusinan bahkan lebih fitur hanya dalam satu genggaman.

Bagi kebanyakan pejalan kasual, smartphone adalah pilihan terbaik. Gadget ini berukuran tak terlalu besar sehingga dapat dimasukkan ke dalam saku celana, dapat berguna baik online maupun offline. Harganya yang relatif terjangkau, dimulai dari Rp1,5juta juga dapat menjadi petimbangan dalam faktor keamanan.

Tablet

Pro:

• Walau tidak memiliki kemudahan standar panggilan telepon dan sms, aplikasi seperti Whatsapp, Skype atau Viber dapat menjadi alternatif pengganti yang dapat menjadi pilihan selama terhubung dengan internet yang stabil. Bahkan terkadang aplikasi dapat bekerja lebih maksimal dibandingsmartphone dan tentu saja layarnya yang lebih lebar dapat membuat semua jenis hubungan menjadi lebih mudah.

• Biasanya daya tahan baterai lebih lama dibanding smartphone. Terutama jika diatur dalam flight-mode atau hanya mengandalkan wi fi. Kalau tablet Teman Pejalan memiliki data selulerpun, biasanya tablet memiliki slot sim card yang dapat dibuka. Sehingga memungkinkan Teman Pejalan untuk mengganti sim card lokal dimana Teman Pejalan berada dengan mudah.

Kontra:

• Dalam beberapa kasus, ukuran juga kadang menjadi masalah. Layar 7 hingga 8 inchi tetap tidak akan muat pada saku celana dan tentu saja lebih berat daripada smartphone.

• Memotret objek yang benar dengan menggunakan tablet adalah ide yang mengerikan . Ukurannya yang lebih besar akan menyulitkan untuk memperoleh kestabilan saat mengambil gambar dan layarnya sedikit sulit untuk dilihat ketika berada di bawah sinar matahari langsung. Selain itu juga membuat kita terlihat agak konyol.

• Walaupun layarnya memang lebih lebar, guna tablet pada umumnya sama saja seperti smartphone. Maksudnya, dalam hal mengetik tetap saja akan lebih lambat dibanding dengan menggunakan keyboard yang sebenarnya. Memang sekarang sudah banyak bluetooth keyboardtambahan yang dijual, tapi ini berarti akan menambah beban dan sumber daya pada barang bawaan. Kita tetap menginginkan packing yang praktis, bukan?

Rekomendasi:

Komputer tablet sudah menjadi salah satu gadget populer yang dibawa pada saat traveling beberapa tahun belakangan ini. Bagi Teman Pejalan yang ingin melakukan hal lebih seperti menonton film atau membaca e-books, tablet akan menjadi pilihan yang lebih nyaman di mata.

Merek dengan pertimbangan harga, kualitas dan ukuran yang dapat dipilih adalah Google Nexus 7 dengan versi wifi yang dijual dengan kisaran harga Rp3,5 juta. Tapi jika Teman Pejalan terbiasa menggunakan merek Apple, iPad Mini juga dapat menjadi pilihan.

 

img1420448555097

Laptop

Pro:

• Fleksibilitas adalah kelebihan paling utama dari laptop. Software yang dapat membantu aktivitas yang dibutuhkan,  storage yang memiliki kapasitas jauh lebih besar untuk menyimpan data dari smartphone atau kamera secara terpisah. Keunggulan lainnya, situs dengan tampilan yang lebih maksimal, atau melakukan aktivitas online lainnya seperti Skype. Kegiatan hiburan seperti menonton film juga dapat lebih menyenangkan.

• Daya tahan laptop jauh lebih kuat dibanding smartphone atau tablet. Ditambah dengan kelengkapan keyboard dalam bentuk sebenarnya, dapat membuat Teman Pejalan menjadi lebih cepat dan mudah untuk menyelesaikan sesuatu. Sehingga dapat menghemat waktu aktivitas di depan layar dan kamu bisa punya waktu untuk mengeksplor destinasi traveling lebih banyak.

• Jika Teman Pejalan memiliki pekerjaan mobile seperti travel blogger atau freelance writer, laptop adalah pilihan gadget yang paling masuk akal untuk dibawa. Walau cenderung lebih berat dan memakan tempat, efisiensi waktu dan level ‘stres’ yang lebih rendah dibanding bekerja melalui smartphone atau tablet akan terbayar.

Kontra:

• Berat. Selalu ada alasan untuk meninggalkan laptop di dalam kamar hotel dan tidak membawanya setiap saat.

• Harga yang mahal. Dengan pertimbangan ini, ada kekhawatiran ekstra terhadap kerusakan atau kehilangan yang dapat menimbulkan stres yang tidak perlu. Harga asuransi untuk barang ini pun relatif tidak murah.

• Jika Teman Pejalan memiliki mobilitas petualangan yang tinggi. Laptop yang disimpan dalam ransel akan menjadi barang yang sangat rapuh.

Rekomendasi:

Untuk Teman Pejalan yang memiliki bisnis online, laptop adalah suatu keharusan. Apabila memiliki budget sekitar Rp11juta – Rp15juta, akan sulit untuk tidak memilih MacBook Air. Tipis, ringan, daya tahan baterai yang cukup baik dan toko-toko Apple resmi mudah dijumpai diman-mana jika Teman Pejalan butuh menggunakan garansi.

Tentu saja ada pilihan lain yang lebih murah tapi dengan kualitas prosesor yang tidak kalah seperti Asus Transformer T100 atau Dell XPX 12. Tapi jika Teman Pejalan tidak memiliki kepentingan tinggi terhadap aktivitas online untuk bisnis, kurang bermanfaat membawa gadget yang satu ini.

Kesimpulannya, saya akan bilang kalau smartphone atau tablet adalah pilihan paling bijak untuk dibawa ketika traveling bagi Teman Pejalan yang tidak menjalankan blog atau bisnis online. Laptop akan memberatkan bawaan dan menjadi barang yang tidak terlalu digunakan.

Sumber

ADISUCIPTO, SANG PAHLAWAN PENERBANGAN

Bagi yang sering berkunjung ke Jogja dengan menggunakan pesawat pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Adisucipto. Nama Adisucipto pada saat ini dikenal masyarakat Indonesia sebagai bandara Internasional yang berada di DI Yogyakarta. Lantas siapakah Adisucipto, sehingga namanya diabadikan menjadi nama sebuah bandara?

Sebagai informasi, Adisucipto, merupakan salah seorang pahlawan nasional di bidang penerbangan. Pria yang lahir di Salatiga, pada 14 Juli 1916 tersebut, dikenang atas jasa-jasanya menembaki tangsi-tangsi Belanda pada zaman penjajahan dengan hanya menggunakan pesawat tua.

Adisucipto memulai karirnya di dunia penerbangan pada tahun 1936. Lulusan dari Algemene Middelbare School (AMS) Semarang ini mendaftarkan diri ke Sekolah Penerbangan Militer di Kalijati, Subang, pada tahun tersebut. Selama pendidikan tersebut, Adisucipto lulus lebih cepat dari teman-temannya, dan tamat dengan mendapatkan brevet kelas atas. Dia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang memiliki brevet tersebut. Dia pun akhirnya lulus dengan pangkat Letnan.

Pada saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Jepang banyak meninggalkan pesawat-pesawat tua,. Salah satunya adalah pesawat jenis Nishikoren yang telah di cat merah putih diterbangkan oleh Adisucipto dari Tasikmalaya ke Maguwo pada tanggal 10 Oktober 1945.

Beliau juga berhasil menerbangkan dengan selamat pesawat Cureng berbendera merah-putih di atas Yogyakarta. Hal ini dilakukannya untuk memompa semangat rakyat Indonesia yang saat itu barusan merdeka dan masih labil. Apalagi ketika itu ada isu Belanda bakal membonceng Sekutu untuk melakukan penjajahan kembali atas Indonesia.

Untuk melatih para pilot baru, sekolah penerbangan kemudian didirikan pada 1 Desember 1945. Adisucipto sebagai instruktur dan Surjadi sebagai administrator. Jangan dibayangkan sekolah penerbangan saat itu elit,bahkan  jauh dari layak.

Modalnya hanyalah pesawat tua yang sebenarnya sudah tak aman untuk diterbangkan. Namun hal itu tak menggentarkan semangat 31 siswa dalam belajar, justru karena semangat patriotismenya, kondisi serba minim itu semakin memacu semangat juang ke 31 siswa tersebut.

Adisucipto wafat dalam misi kemanusiaan untuk mengambil obat-obatan di Malaysia pada tahun 1947. Pada saat tersebut sedang terjadi Agresi Militer Belanda. Pesawat yang digunakannya ditembak saat berada di Lapangan Terbang Maguwo oleh Belanda. Beliau wafat pada usia 31 tahun. Semoga semangat nasionalisme Adisucipto dapat menular kepada para penerbang Indonesia lainnya.

Live to Fly

Sumber

PERKEMBANGAN LOW COST CARRIER DI AMERIKA, INGGRIS DAN ASIA

Model penerbangan LCC (low cost carrier) saat ini sedang berkembang pesat di dunia. Melalui penawaran layanan yang unik, hampir semua orang dapat terbang dengan nyaman ke berbagai destinasi, tanpa harus membayar biaya yang tinggi. Inilah beberapa wilayah di dunia beserta maskapainya yang merupakan perintis penerbangan low cost carrier :

Amerika
Revolusi penerbangan murah pertama kali dimulai di Amerika Serikat melalui maskapai Southwest yang berbasis di Dallas, Texas. Pada tahun 1973, Southwest Airlines membuktikan bahwa penerbangan LCC sangat menguntungkan. Hal ini pun diyakinkan oleh mantan pengacara CEO Southwest Airlines, Herb Kelleher, yang menyatakan bahwa penerbangan low cost carrier sangat layak diberlakukan. Di Amerika Serikat sendiri, Southwest Airlines menjadi maskapai penerbangan terbesar dan kedua dalam skala dunia. Namun sampai saat ini, Southwest Airlines belum memiliki rencana membuka rute internasional.

Inggris
Heathrow Airport di London adalah bandara tersibuk dan menjadi penghubung transportasi paling penting di dunia. Selama beberapa dekade, bandara ini dioperasikan oleh maskapai penerbangan mahal. Akhirnya pada tahun 70-an, Heathrow Airport ditantang oleh Freddie Laker yang membuka penerbangan LCC ke Amerika Serikat melalui pesawat Skytrain. Melihat perkembangan pesat penerbangan low cost carrier di Inggris membuat dua maskapai baru hadir pada tahun 90-an, Easyjet dan Ryanair. Kedua maskapai ini membuka kembali bandara Stansted yang sebelumnya diabaikan di London, dan membuat keduanya berkompetisi seperti membuka rute penerbangan yang sama. Sekarang keduanya menawarkan penerbangan dengan biaya yang murah ke sejumlah tujuan utama di Eropa.

Asia
Pertumbuhan penerbangan low cost carrier diawali dengan munculnya AirAsia yang membuat perkembangan maskapai di Asia Tenggara menjadi pesat sejak tahun 2000. Berbasis di Malaysia, AirAsia menjadi sarana angkutan utama karena membuat banyak orang yang sebelumnya menganggap bahwa pesawat terbang adalah sarana angkutan mewah, namun dapat terbang ke berbagai negara di Asia Tenggara dengan mudah dan praktis. Keberhasilan AirAsia membuat banyak maskapai LCC baru bermunculan, seperti Tiger Airways Singapura. Tidak hanya rute Asia Tenggara saja, maskapai ini pun kini telah membuka rute ke Eropa, melalui AirAsia X.

Maskapai low cost carrier saat ini semakin banyak bermunculan untuk memenuhi tingginya minat penumpang yang ingin melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang. Dengan demikian, sekolah penerbangan  untuk menghasilkan tenaga pilot ahli pun akan selalu dibutuhkan. Tujuannya tak lain untuk membuat profesi ini menjadi salah satu profesi yang paling menjanjikan untuk saat ini dan masa depan. Jadi, bagi Anda yang ingin berkarir menjadi pilot handal dan profesional, sekarang saatnya menyiapkan diri dan mencari sekolah tinggi penerbangan di Indonesiayang memberikan pelatihan terbaik untuk Anda.

Sumber

RAYMONDE DE LAROCHE, WANITA PERTAMA YANG MERAIH LISENSI PILOT

Di era modern, seorang pilot wanita adalah hal yang umum. Tahukah Anda, siapa wanita pertama yang meraih lisensi pilot? Dia adalah Raymonde de Laroche, wanita pertama yang meraih lisensi pilot sejak tahun 1910. Ini dia cerita mengenai wanita hebat tersebut untuk menginspirasi Anda yang ingin atau sedang belajar di sekolah penerbangan di Indonesia  untuk menjadi seorang pilot profesional.

Awal Karir Raymonde de Laroche

Pilot wanita ini lahir pada 22 Agustus 1882 di Paris, Perancis sebagai Elise Raymonde Deroche. Awalnya, Elise bekerja sebagai aktris dan penyanyi dan memiliki nama panggung, Raymonde de Laroche. Di tahun 1908, Raymonde tertarik untuk menjadi seorang pilot saat melihat Wilbur Wright yang mendatangi Paris melakukan demonstrasi penerbangan. Dia pun saat itu bertanya pada pilot bernama Charles Voisin, dimana ia belajar menjadi pilot.

Lisensi Pilot Raymonde de Laroche

Setelah 3 tahun sekolah pilot, Raymonde akhirnya mendapatkan lisensi #36 dari Aeronautics Federasi Internasional (FAI) pada tanggal 8 Maret 1910. Di usia yang masih sangat muda, 24 tahun, dia telah berpartisipai dalam ajang penerbangan internasional, seperti di Heliopolis, Budapest, Rouen, dan Saint Petersburg.

Karir Menjadi Seorang Pilot

Pada 8 Juli 1910, Raymond bersaing mengikuti ajang Reims Air Race sebagai satu-satunya pilot wanita. Namun saat itu, dia mengalami kecelakaan dari ketinggian hingga membuatnya harus menunda penerbangan beberapa waktu. Tapi, hal ini tidak membuat Raymonde kehilangan minat untuk terbang. Tak lama kemudian, ia mencetak rekor sebagai wanita pertama yang berhasil menerbangkan pesawat dalam jarak 323 kilometer dengan ketinggian 4500 meter. Selain itu, dia pun menjadi pemegang Femina Cup di tahun 1913 karena berhasil menerbangkan pesawat secara nonstop selama 4 jam lamanya.

Penerbangan Terakhir Raymonde de Laroche.

Di musim panas tahun 1919, Raymonde mendorong dirinya lebih jauh dalam dunia penerbangan dan ingin memecahkan rekor sebagai wanita pertama yang berhasil menerbangkan pesawat di ketinggian 15,700 kaki. Ia dilaporkan ke bandara di Le Crotoy untuk melakukan pelatihan. Namun, saat landing Raymonde mendapat kecelakaan yang mengakibatkan kematian bersama seorang pilot lainnya.

Sosok Raymonde sangat menginspirasi banyak orang dan dia pun akan selalu dikenang karena patungnya kini berdiri kokoh di bandara Le Bourget, Perancis. Semoga cerita di atas menginspirasi Anda yang bercita-cita menjadi seorang pilot mahir.

Sumber

Cuaca

Bali
broken clouds
28.5 ° C
28.5 °
28.5 °
72 %
4.3kmh
59 %
Mon
27 °
Tue
29 °
Wed
30 °
Thu
29 °
Fri
30 °

Kurs Rupiah

IDR - Indonesian Rupiah
USD
17,393.3
AUD
12,496.8
EUR
20,356.1
CNY
2,547.3
JPY
110.7
SGD
13,634.5