ADISUCIPTO, SANG PAHLAWAN PENERBANGAN

239

Bagi yang sering berkunjung ke Jogja dengan menggunakan pesawat pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Adisucipto. Nama Adisucipto pada saat ini dikenal masyarakat Indonesia sebagai bandara Internasional yang berada di DI Yogyakarta. Lantas siapakah Adisucipto, sehingga namanya diabadikan menjadi nama sebuah bandara?

Sebagai informasi, Adisucipto, merupakan salah seorang pahlawan nasional di bidang penerbangan. Pria yang lahir di Salatiga, pada 14 Juli 1916 tersebut, dikenang atas jasa-jasanya menembaki tangsi-tangsi Belanda pada zaman penjajahan dengan hanya menggunakan pesawat tua.

Adisucipto memulai karirnya di dunia penerbangan pada tahun 1936. Lulusan dari Algemene Middelbare School (AMS) Semarang ini mendaftarkan diri ke Sekolah Penerbangan Militer di Kalijati, Subang, pada tahun tersebut. Selama pendidikan tersebut, Adisucipto lulus lebih cepat dari teman-temannya, dan tamat dengan mendapatkan brevet kelas atas. Dia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang memiliki brevet tersebut. Dia pun akhirnya lulus dengan pangkat Letnan.

Pada saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Jepang banyak meninggalkan pesawat-pesawat tua,. Salah satunya adalah pesawat jenis Nishikoren yang telah di cat merah putih diterbangkan oleh Adisucipto dari Tasikmalaya ke Maguwo pada tanggal 10 Oktober 1945.

Beliau juga berhasil menerbangkan dengan selamat pesawat Cureng berbendera merah-putih di atas Yogyakarta. Hal ini dilakukannya untuk memompa semangat rakyat Indonesia yang saat itu barusan merdeka dan masih labil. Apalagi ketika itu ada isu Belanda bakal membonceng Sekutu untuk melakukan penjajahan kembali atas Indonesia.

Untuk melatih para pilot baru, sekolah penerbangan kemudian didirikan pada 1 Desember 1945. Adisucipto sebagai instruktur dan Surjadi sebagai administrator. Jangan dibayangkan sekolah penerbangan saat itu elit,bahkan  jauh dari layak.

Modalnya hanyalah pesawat tua yang sebenarnya sudah tak aman untuk diterbangkan. Namun hal itu tak menggentarkan semangat 31 siswa dalam belajar, justru karena semangat patriotismenya, kondisi serba minim itu semakin memacu semangat juang ke 31 siswa tersebut.

Baca juga:  Masuk Ruang Hampa Dua Pesawat TNI AU Tabrakan

Adisucipto wafat dalam misi kemanusiaan untuk mengambil obat-obatan di Malaysia pada tahun 1947. Pada saat tersebut sedang terjadi Agresi Militer Belanda. Pesawat yang digunakannya ditembak saat berada di Lapangan Terbang Maguwo oleh Belanda. Beliau wafat pada usia 31 tahun. Semoga semangat nasionalisme Adisucipto dapat menular kepada para penerbang Indonesia lainnya.

Live to Fly

Sumber

Previous articlePERKEMBANGAN LOW COST CARRIER DI AMERIKA, INGGRIS DAN ASIA
Next articleMemilih Gadget yang Tepat Ketika Traveling