Bandara Adi Soemarmo Tekan Defisit

97

SOLO, suaramerdeka.com – Sudah lebih dari empat tahun sejak diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) 7 Maret 2009 silam, hingga kini Bandara Internasional Adi Soemarmo Solo masih terus merugi.

Bahkan menurut general manager (GM) Abdullah Usman, di 2013 ini defisitnya mencapai Rp 21 miliar. Pendapatan yang diperoleh selama setahun tidak cukup untuk menutup biaya operasional bandara. Meski demikian, Usman terus berupaya menekan angka defisit itu.

Proyeksi 2014, pihak bandara mentargetkan pendapatan sebanyak Rp 70 miliar. “Dengan pendapatan segitu  diharapkan bisa menekan defisit hingga 50 persen,” kata dia ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Selasa (10/12).

Menurut Usman, ada banyak sumber pendapatan di bandara. Antara lain, sewa apron pesawat, sewa kantor dan ruko, terminal cargo, dan lainnya. Lantaran pendapatan bandara itu lebih banyak bertumpu pada pesawat dan penumpang maka semakin banyak pesawat yang membuka rute maka semakin banyak pula pendapatannya.

Setelah mengalami pasang surut, saat ini di Bandara Adi Soemarmo hanya ada lima maskapai yang membuka rute penerbangan. Tiga maskapai domestik yang seluruhnya terbang ke Jakarta, yakni Garuda Indonesia (tiga kali sehari), Sriwijaya Air (dua kali), Lion Air (sekali).  Dua lainnya, Air Asia ke Kuala Lumpur (sekali sehari) dan Silk Air (seminggu dua kali).

Namun mulai 15 Desember ini. KAL-Star membuka penerbangan Solo-Banjarmasin. Rute itu mengisi jadwal Trigana Air yang tutup sejak 17 September silam lantaran merugi akibat kalah bersaing.

Untuk memudahkan pelayanan pada para penumpang, KAL-Star  membuka kantor sekaligus tempat penjualan tiket di dekat Terminal Tirtonadi di kawasan Gilingan, selain di kawasan bandara. “Pembukaan kantor di kawasan Gilingan dekat terminal  ini untuk memudahkan para relasi dan calon penumpang yang akan mengunakan jalan darat sewaktu berangkat ke bandara,” jelasmya

( Langgeng Widodo / CN26 / SMNetwork )