Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tengah menyelidiki penyebab tabrakan pesawat Batik Air dengan pesawat TransNusa dilandasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma pada Senin malam lalu. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengaku pihaknya telah mengambil empat kotak hitam dari masing-masing pesawat agar data penerbangan dan rekaman suara di kokpit pesawat dapat ditinjau.

Menurut Soerjanto, telah mengambil data-data di tower bandara sekaligus melihat pandangan dari tower ke arah landasan pacu. KNKT akan melakukan serangkaian wawancara dengan petugas lalu lintas udara dan petugas penanganan pesawat di darat.

“Dari wawancara itu bisa diketahui kapan terakhir mereka mendapat pelatihan, materi pelatihannya apa saja, cara kerja mereka bagaimana, apakah istirahat mereka cukup,” kata Soerjanto kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan, Selasa (5/4) kemarin.

Karena harus melalui beragam prosedur, Soerjanto menegaskan bahwa perlu waktu lebih dari sebulan untuk mengetahui penyebab tabrakan dan saat ini terlalu dini untuk menyimpulkannya. Kala itu, pesawat Batik Air dengan rute Halim Perdanakusuma-Ujung Pandang akan lepas landas. Namun pada saat bersamaan pesawat TransNusa berada dilandasan pacu dan sedang ditarik menuju hanggar.

Akibat tabrakan itu, ujung sayap kiri pesawat Batik Air patah, sedangkan pesawat Transnusa mengalami patah pada bagian ekor horizontal dan ujung sayap kiri. Insiden itu tidak menimbulkan korban jiwa. Bandara Halim Perdanakusuma sempat ditutup selama beberapa jam dan kembali beroperasi pada Selasa dini hari.