Regulator Lemah, Industri Penerbangan Kian Memburuk

61

Pengamat Penerbangan Chappy Hakim menilai dunia penerbangan Indonesia semakin memburuk. Lemahnya regulator dalam hal ini Kementerian Perhubungan dalam melakukan integrasi komunikasi antar pemangku kepentingan di industri tersebut, ditudingnya sebagai penyebab utama kondisi tersebut.

Purnawirawan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) tersebut menilai karut-marut yang terjadi di dunia penerbangan Indonesia merupakan bukti Kementerian Perhubungan bekerja tanpa rencana yang matang. Padahal sebagai negara kepulauan, transportasi udara wajib dikelola dengan baik.

“Tahun 1960-1970an, kita bisa melihat maskapai penerbangan tertata,” kata Chappy dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (21/2).

Dia menuturkan, pada era tersebut pemerintah memiliki visi yang jelas dan terpadu soal dunia penerbangan. Dia mencontohkan bagaimana PT Garuda Indonesia Tbk ditempatkan sebagai duta penerbangan Indonesia dengan melayani rute penerbangan antar kota besar. Sementara, maskapai pelat merah lainnya yaitu PT Merpati Nusantara Airlines mendapat jatah untuk menghubungkan kota-kota kecil, atau dikenal dengan penerbangan perintis.

“Diantara itu, baru disediakan celah untuk maskapai lain. Jumlahnya pun tidak lebih dari 10 perusahaan. Itu cerminan bahwa pimpinan pada waktu itu punya pandangan yang tertata soal sistem transportasi nasional,” ujarnya.

Chappy menilai industri penerbangan mulai kacau saat peluang investasi di sektor penerbangan mulai dibuka lebar pada awal 2.000. Euforia investasi menyebabkan banyak maskapai baru bermunculan yang kemudian mengakibatkan ledakan jumlah penumpang.

Dia menyebutkan yang terjadi kemudian adalah kesenjangan antara jumlah penumpang dengan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur penerbangan. Akibatnya, kualitas pelayanan penumpang pesawat di Indonesia terus menurun.

Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng yang dulu didesain untuk melayani 22 juta penumpang kini sudah tidak mencukupi lagi karena jumlah penumpang yang terbang melalui bandara tersebut melonjak hingga angka 60 juta per tahun. Untuk itu perbaikan infrastruktur dan penambahan SDM di bidang penerbangan mutlak diperlukan.

Baca juga:  Wisata Malam Yokohama Di Jepang Kota Terbesar Setelah Tokyo

“Tidak ada gunanya pesawat banyak dan maskapai banyak tanpa ada dukungan SDM dan infrastruktur,” ucap Chappy.

 

Sumber

Previous articleIni Beberapa Maskapai yang Dipaksa Merger oleh Kemenhub
Next articleMau Traveling Satu Harimu Bisa Terwujud? Simak 5 Tipsnya