Bandara bersejarah itu bernama FRANS KAISIEPO

522

Tahun 1944, Sekutu berhasil mengalahkan Jepang dan menguasai lapangan terbang di Ambroben. AU Australia menempati lapangan terbang ini sebagai pangkalan udara mereka. Tahun 1947, perang usai dan Belanda masuk dan menguasai lapangan terbang ini. Sejak itu, lapangan terbang di tepi Pantai Ambroben ini dinamai Bandara Mokmer. Untuk mendukung keberadaan bandara ini, Belanda melakukan beberapa pembangunan, termasuk membangun hotel yang hanya berjarak 2 menit jalan kaki dari bandara.

Hotel tersebut didirikan oleh maskapai milik Belanda, KLM, dan dinamai RIF Hotel. Peletakan batu pertama dilakukan tahun 1952, dengan tujuan menjadikan Biak sebagai bagian dari rute penerbangan internasional KLM. Pengembangan bandara terus dilakukan oleh Belanda, sehingga tahun 1959 Bandara Mokmer sudah siap untuk didarati pesawat sekelas DC-8. Setahun kemudian, KLM membuka rute penerbangan Biak-Tokyo-Amsterdam.

Sayangnya, hal ini tak berlangsung lama. Tahun 1962 penguasaan Bandara Mokmer diserahkan ke UNTEA (United Nations Temporary Executive Administration), badan PBB
yang mengurus Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) Irian Barat. Setelah penyerahan kedaulatan Irian Barat ke Indonesia pada 1 Mei 1953, UNTEA baru menyerahkan penguasaan Bandara Mokmer ke tangan Indonesia tahun 1969.

Di bawah pengelolaan pemerintah Indonesia, nama Bandara Mokmer diubah menjadi Bandara Frans Kaisiepo pada tahun 1984. Posisi strategis bandara ini yang dekat Samudra Pasifik dan berlokasi di ekuator membuat Garuda Indonesia memasukkan Biak dalam penerbangan internasional ke Amerika Serikat. Pada periode 1996-1998, Garuda membuka rute Jakarta-Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles dengan pesawat berbadan lebar MD-11. Bahkan sebenarnya bandara ini sanggup didarati pesawat sebesar Boeing 747 seri 400.

Namun sangat disayangkan, rute internasional melintasi Samudra Pasifik ini terhenti karena hantaman krisis ekonomi. Sejak itu pula status bandara internasional terhenti, hingga saat ini. Padahal bandara yang dibangun di atas litologi batu gamping (limestones) alias batu karang ini amat kokoh dan bersifat keras. Letak geografis di garis ekuator dan di mulut Samudra Pasifik menjadikan Bandara Frans Kaisiepo tetap penting. Sempat terpetik kabar pembangunan kawasan perdagangan berikat di Biak, karena memiliki dukungan bandara yang berkualitas internasional dan pelabuhan laut di antara wilayah kepulauan Nusantara dan Samudra Pasifik.

Sempat terbetik kabar terkait Biak dan Bandara Frans Kaisiepo, yaitu adanya persiapan fasilitas peluncuran roket dan satelit luar angkasa bekerjasama dengan Rusia. Dalam perhitungan di atas kertas, biaya peluncuran dari Biak hanya sekitar sepersepuluh biaya peluncuran dari Cape Caneveral, Florida, AS. Secara ilmiah, teknis, dan geografis sepintas tak ada masalah. Namun secara sosiologis, masyarakat setempat tampaknya belum bisa “terbuka” terhadap rencana tersebut. Selain itu, secara politis dan ekonomis, belum banyak kajian dan pembahasan serius terkait rencana itu. Sebenarnya, tak jauh dari Bandara Frans Kaisiepo, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sudah membangun stasiun berikut fasilitas-fasilitas pendukungnya. Tak hanya fasilitas peluncuran roket dan satelit luar angkasa, stasiun LAPAN di Biak konon juga dilengkapi fasilitas penginderaan jauh (remote sensing).

hotel rif

Saat ini, kondisi Bandara Frans Kaisiepo cukup “unik”. Meskipun sekeliling bandara sudah diberi pagar pembatas, namun pagar ini dibeberapa titik banyak dijebol oleh warga sekitar bandara sebagai “jalan pintas” mereka. Setidaknya ada 32 “celah” yang bolong. Kondisi ini tentunya sangat membahayakan bagi aktivitas operasional bandara. Keunikan lain di bandara ini adalah adanya suara sirine yang meraung keras menjelang aktivitas lepas landas maupun pendaratan pesawat. Suara sirene ini bisa terdengar hingga radius 4-5 kilometer di seantero Kota Biak yang luasnya tak seberapa itu.