Douglas, Sempat Menjadi Petani Kentang Sebelum Bikin Pesawat

27

DC, jenis pesawat yang sudah tak asing lagi bagi industri aviasi dunia. Pada awal merintis penerbangan, Indonesia juga menggunakan pesawat tipe tersebut yang dioperasikan Indonesian Airways.

Pada awal kemerdekaan, pesawat tersebut membawa Presiden Soekarno dari Yogyakarta ke Kemayoran, Jakarta. Saat itu Soekarno akan dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Saat mengangkut Soekarno, pesawat sudah menggunakan logo dan nama baru, Garuda Indonesian Airways. Ini adalah nama yang diusulkan Soe­karno untuk perusahaan maskapai pertama di Indonesia tersebut.

Pada 28 Desember 1949, terjadi penerbangan bersejarah DC-3 dengan registrasi PK-DPD milik KLM Interinsulair.

Varian pesawat yang ngetop pada era tersebut merupakan hasil pemikiran dan kerja keras dari seorang yang ingin menciptakan teknologi baru untuk menghubungkan dunia.

Wills Donald Douglas namanya, putra kedua dari asisten kasir National Park Bank. Douglas lahir di Brooklyn, New York, pada 6 April 1892. Ia memulai pendidikan di Trinity Chapel School di New York City.

Keinginannya sempat tertunda dalam menggeluti teknik penerbangan, karena pada usia 17, Donald Douglas memasuki US Naval Academy di Annapolis, Md, untuk menjadi angkatan laut Amerika.

Tetap Memilih Penerbangan

Douglas tertarik dengan pesawat. Wills Douglas meninggalkan Akademi Angkatan Laut pada 1912, sebelum ia lulus, untuk mencari pekerjaan di bidang teknik penerbangan.

Douglas kemudian menekuni  karier yang dipilihnya. Ia menyelesaikan sarjana program ilmu penerbangan di Institut Teknologi Massachusetts hanya dalam dua tahun dari seharusnya empat tahun. Karena prestasi akademiknya, Douglas segera dipekerjakan di MIT (Massachusetts Institute of Technology) sebagai asisten profesor aeronautika.

Pada 1915, ia menjadi konsultan Connecticut Aircraft Co dan membantu membangun balon Angkatan Laut pertama. Pada Agustus tahun yang sama, ia bergabung dengan Glenn L. Martin Co, di Los Angeles, California, sebagai chief engineer.

Pada 1916, ia menjabat sebentar sebagai insinyur penerbangan sipil sebagai Kepala Bagian Signal Corps Army Aviation di Washington, DC, kemudian ia kembali ke Cleveland, Ohio, karena Martin Co telah pindah. Saat itu, Doughles menjadi chief engineer. Ia bertanggung jawab atas perakitan pesawat Angkatan Darat AS MB-1 bermesin ganda bomber, yang pertama terbang 17 Agustus 1918.

Dari Mencangkul hingga Merakit Pesawat

Douglas bertekad untuk membuat pesawat sendiri, terlepas dari modal yang ia memiliki hanya US$600. Sementara untuk mencukupi kebutuhan ­kelu­arganya, ia bekerja sebagai buruh, mencangkul kentang dan mencuci mobil.

Pesawat pertamanya dipesan David R. Davis. Olahragawan ini berani membayar USS$ 40.000 untuk membangun sebuah perusahaan penerbangan. David ingin menjadi orang pertama yang bisa terbang nonstop dari pantai ke pantai Amerika.

Berawal dari ketertarikan dan kepercayaan berbagai perusahaan untuk menggunakan pesawat Douglas, akhir­nya The Davis-Douglas Co mem-ba­ngun The Cloudster.

The Cloudster akhirnya menjadi kenyataan bagi Claude Ryan San Diego untuk membuka penerbangan California ke Los Angeles. Menurut Boeing, hal berbeda justru dialami Davis yang kehilangan minat usahanya dan dijual kepada Douglas, kemudian tergabung dengan The Co Douglas pada Juli 1921.

Davis akhirnya membuat pesawat Angkatan Laut sendiri untuk mem­ba­ngun pembom torpedo, dimulai deng­an DT-1 (Douglas Torpedo, Pertama).

Pada 1922, perusahaan Douglas telah sukses dengan enam pesawat senilai US$ 130.890. Ia menyewakan ba­ngunan yang ditinggalkan dari Herman Film Corp seluas 2.345 m2 di Wilshire Boulevard, Santa Monica, California, di mana ia membangun Cruiser World Douglas pada musim gugur 1928, senilai US$ 25 juta.

Sempat Alami Kecelakaan

Salah satu pesawat produksi Douglas mengalami kecelakaan pada 1929. Semua pihak kemudian meminta untuk mengkaji ulang desain dan perakit­annya. Hal tersebut mendatangkan banyak protes, tetapi Douglas tetap membangun perusahaannya dengan dukungan finansial militer.

Menurut Time, media online Amerika, “Untuk penerbangan AS, musim dingin adalah salah satu yang terburuk. Kemudian sebab suatu hal, DC-4 dijual ke United Air Lines, Inc yang dipimpin William Allan Patterson.

Pada 1932, ia mulai membangun DC-1 dan meluncurkan kariernya se­bagai pembangun transportasi udara dunia. Selanjutnya pada 1940, penjual­an DC-2 dan DC-3 kembali naik menjadi hampir US$ 61 juta.

Sejalan dengan perjalanan perusahaannya, dalam menjaga produksinya saat Perang Dunia II, Douglas membangun pabrik di Long Beach dan El Segundo, California, dengan sewa fasilitas di Chicago, Illinois, Oklahoma City, Tulsa, Okla Park.

Belum begitu lama beroperasi, sewa guna usaha tersebut ditutup pada akhir perang, namun Douglas terus memproduksi pesawat komersial dan militer, tempur, rudal dan roket.

Sumber

Previous articleBerlibur ke Eropa? Ini 7 Tips Hindari Kejahatan
Next articleTips Memesan Hotel Agar Murah