Maladewa, Kahyangan Itu Nyaris Tenggelam

200

MALADEWA adalah negara yang tak pernah absen disebut ketika dunia berbicara tentang pemanasan global. Keindahan alam negara kepulauan yang berada di wilayah selatan Asia itu terancam ”hilang” ditelan laut.

Sore itu kapal feri dari dermaga di Pulau Male menuju Pulau Hulhumale dipadati penumpang. Kapal ini membawa sebagian besar penumpang yang bertempat tinggal di Hulhumale dan bekerja di Male.

Setibanya di Hulmuhale, sebagian penumpang memilih berkendaraan dengan bus umum, melewati jalan beraspal dan lingkungan perumahan yang tertata rapi, menuju tempat tinggal mereka. Sebagian lagi menggunakan sepeda motor pribadi yang sejak pagi diparkir di pelataran dermaga.

Setiap harinya, sebagian besar penduduk yang tinggal di Hulhumale ini harus menyeberang lautan selama 20 menit menggunakan feri menuju Male untuk beraktivitas. Mereka berdagang, berbelanja di pasar tradisional dan mal, atau bekerja di kantor.

KOMPAS/YULIA SAPTHIANI Kegiatan olahraga air menjadi salah satu daya jual wisata Maladewa. Untuk itu, setiap resor di Maladewa menyediakan berbagai peralatan olahraga air, baik untuk disewa maupun cuma-cuma.

Male adalah ibu kota Maladewa yang juga merupakan nama pulau. Pulau ini padat dengan bangunan kantor, pasar, sekolah, mal, sampai stadion sepak bola, hingga menjadi pusat berbagai kegiatan penduduk.

Adapun Hulhumale adalah pulau yang dipusatkan sebagai tempat tinggal, tentu saja dengan beragam fasilitas pelengkapnya, seperti rumah sakit, pasar swalayan kecil, sekolah, tempat rekreasi taman dan pantai, tempat pengisian bahan bakar, dan pembangkit tenaga listrik.

Selain fungsinya, Male dan Hulhumale memiliki perbedaan lain. Male adalah pulau lama yang terbentuk secara alami. Sementara Hulhumale adalah pulau buatan, yaitu pulau yang dibuat manusia.

Pulau seluas 2 kilometer persegi itu direklamasi mulai Oktober 1997. Berdasarkan data dari Housing Development Corporation (HDC), pulau ini diharapkan menjadi tempat tinggal bagi 60.000 orang.

Baca juga:  Traveling ke Kota Paling 'Manis' di Asia

Saat ini, Hulhumale sudah dihuni sekitar 3.000 orang. Sebagian di antaranya mengungsi dari pulau lama yang musnah karena tsunami tahun 2004. Salah satunya adalah Ahmad yang bekerja sebagai sopir bus umum.

”Kami pindah ke sini karena tsunami. Awalnya tinggal di tenda-tenda pengungsian,” kata Ahmad, yang sekarang sudah tinggal di apartemen yang dibangun pemerintah.

KOMPAS/YULIA SAPTHIANI Snorkeling adalah salah satu kegiatan yang menjadi daya tarik wisata Maladewa. Di perairan Maladewa yang jernih, penyelam bisa melihat berbagai biota laut.

Hulhumale memang dibuat dan difokuskan sebagai pulau untuk tempat tinggal. Selain ratusan unit apartemen dengan berbagai kelas yang sudah berdiri, di salah satu bagian pulau terdapat lahan yang di atasnya akan dibangun rumah melalui Program Pembangunan Seribu Rumah.

Ancaman tenggelam

Program ini bisa membantu penduduk dari pulau yang rawan tenggelam untuk pindah ke pulau buatan. Tetapi, hal ini hanya berlaku untuk jangka pendek.

Meskipun terdiri dari banyak pulau, dengan jumlah 1.900-an buah, pulau-pulau di negara ini terancam ”hilang” karena pemanasan global yang membuat permukaan air laut terus naik. Apalagi, permukaan daratan di Maladewa secara umum cukup rendah, hanya setinggi pohon kelapa untuk titik tertinggi.

Sadar akan perubahan kondisi alam yang mengancam habitat mereka, penduduk Maladewa punya kepedulian tinggi akan lingkungan. ”Pada zaman dulu, orangtua mungkin tidak terlalu memperhatikan kondisi lingkungan. Tetapi, sekarang, semua mengerti pentingnya menjaga lingkungan, terutama laut,” kata Ivan, pemandu wisata.

Di sekolah dasar, misalnya, terdapat kurikulum tentang menjaga kelestarian laut, termasuk di dalamnya pelajaran menyelam. ”Nelayan juga tidak boleh memancing menggunakan alat yang merusak terumbu karang. Ikan harus dipancing satu-satu,” tutur Ivan, ketika memperlihatkan kesibukan pasar ikan di Male.

KOMPAS/YULIA SAPTHIANI Kegiatan olahraga air menjadi salah satu daya jual wisata Maladewa, seperti olahraga kayak.

Kegiatan peduli lingkungan ini juga sering kali melibatkan wisatawan yang menginap di resor. Di Resor Kurumba, misalnya, terdapat kegiatan bulanan berupa bersih-bersih resor dari sampah. Kegiatan ini melibatkan staf hotel dan tamu.

Baca juga:  Liburan Demi Ketenangan, Kejernihan, dan Relaksasi Pikiran

Sampah-sampah tersebut dan sampah harian dari berbagai tempat dikumpulkan di sebuah pulau, bernama Thilafushi, untuk kemudian diolah berdasarkan jenisnya.

Tak mengherankan, perairan Maladewa terlihat begitu bersih, mulai dari pantai hingga tengah laut. Keindahan biotanya pun bisa dinikmati, bahkan, dari permukaan laut.

Kepedulian penduduk Maladewa akan kelestarian lingkungan ini, tak hanya berpengaruh untuk kehidupan mereka. Sebanyak 600.000 wisatawan yang setiap tahunnya datang, bisa turut merasakan kenyamanannya. (Yulia Sapthiani)


Editor: I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK

http://travel.kompas.com/read/2014/03/23/1506438/Maladewa.Kahyangan.Itu.Nyaris.Tenggelam

Previous article“Solo Traveling” Pun Bisa Menyenangkan!
Next articleSekolah di Korea Batasi “Smartphone” lewat Aplikasi