Bandara Baru Budaya Baru

77

BANDARA BARU Sepinggan Balikpapan tidak lama lagi dioperasikan. Bandar udara yang telah mengundang decak kagum setiap orang yang melihatnya itu, akan menjadi yang terbesar dan termewah di Kalimantan. Bahkan lebih mewah dari bandara-bandara milik Malaysia di wilayah Kalimantan, Sabah dan Serawak, maupun Brunei. Bandara baru Sepinggan itu sudah sepatutnya lebih sempurna dari semua bandara baru di Indonesia.

“Bandara Sepinggan ini menutup semua kekurangan yang ada pada bandara-bandara baru di negeri kita.” Demikian kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, yang sempat saya dengar ketika mengikuti beliau melakukan inspeksi “sisi darat” (mengambil istilah Bandara Samarinda Baru/BSB), akhir tahun 2013 lalu.

Dari penjelasan pemimpin proyeknya waktu itu, studi untuk Bandara Sepinggan sudah dilakukan dengan mengunjungi bandara-bandara besar kelas dunia di negara lain. Juga melakukan studi ke Bali dan Sumatra Utara yang juga sedang membangun bandara baru.

Di bandara Balikpapan itu nanti akan ada mal besar, kafe-kafe dengan pemandangan ke laut , alur penumpang naik dan turun, serta penanganan bagasi yang semuanya membuat nyaman penumpang. Bandara harus membuat orang betah berlama-lama. Sehingga ketika pesawat delay, penumpang tidak emosional karena kenyamanan yang diberikan.

Tujuannya tentu tak hanya itu, tapi juga supaya pengelola bandara tidak bangkrut. Penghasilan pengelola bandara jika hanya mengandalkan jasa airline, pasti tidak cukup untuk membiayai operasional. Hatta, setiap penumpang sudah ditarik pajak (PJPU), yang untuk kelas Sepinggan Rp 40.000 per penumpang. Pengelola jasa bandara baru akan berlaba jika sangat banyak areal di bandara itu yang disewa oleh pihak yang hendak berdagang.

Semacam mal, restoran, kafe, atau bahkan arena bermain anak-anak. Bandara Juanda Surabaya termasuk yang banyak meraih laba karena ini. Konon harga sewa arealnya pun tergolong sangat mahal. Ada yang bilang Rp 1,5 juta per meter persegi. Tapi toh penjual soto Madura mau saja menyewa ruang cukup luas. Bisa kita bayangkan sendiri, berapa omzet warung soto itu setiap harinya.

Baca juga:  Garuda Indonesia Akan Bombardier Rute Jakarta-Banyuwangi

Jika sepi pembeli, pasti mereka tidak akan bertahan lama. Pengelola bandara sudah seharusnya mampu membuat semua pengunjungnya suka berbelanja. Untuk itu, kita berharap mereka bisa menciptakan budaya baru yang membuat semua orang nyaman berada di sana berlama-lama. Budaya bersih, tertib, aman dan nyaman sudah sewajibnya terus ditumbuhkembangkan.

Petugas pelayanan check in harus menghargai orang yang tertib antre. Tidak boleh lagi ada petugas dari mana pun yang nyelonong untuk minta dilayani terlebih dahulu, tanpa antre. Bahkan kalau perlu menganjurkan semua airline menyediakan mesin check in sendiri (self check in), seperti yang sudah lama dipasang Air Asia di Sepinggan.

Di sebelah mesin self check in Air Asia itu dipasang spanduk besar: “Do Self Check-In Now!”. Ini membuat setiap penumpang tanpa bagasi bisa langsung check in tanpa perlu ikut antre panjang di meja check in. Jangan ada lagi pencurian bagasi di Bandara Sepinggan, seperti yang pernah direkam salah seorang penumpang, di mana petugas lapangan di Bandara Sepinggan mengobok-obok tas yang masuk bagasi.

Anak-anak saya termasuk yang pernah jadi korban. Mereka malas melapor, karena tidak ada hasilnya blas. Jangan ada lagi petugas porter bergerombol di ruang kedatangan, seolah menghalangi jalan penumpang yang buru-buru mau pergi karena keperluan mendesak. Jangan ada lagi penumpang yang kesulitan mendapatkan taksi, ketika mendarat tengah malam. Saya termasuk yang terbiasa mendarat pukul 24.00.

Dan termasuk yang sudah merasakan kesulitan dapat taksi resmi. Memang banyak taksi gelap, tapi saya khawatir dengan rasa aman ketika menggunakannya. Jumlah taksi gelap ini konon jauuuh lebih banyak dari taksi resmi di Sepinggan. Nah, ini yang juga penting, banyak penumpang dari kalangan masyarakat bawah sekarang ini.

Baca juga:  Bandara Transit Paling Favorit

Sebab penerbangan murah (low cost carrier) semboyannya memang “everybody can fly”. Masyarakat bawah ini sering kali rendah diri dan minder, mereka malu bertanya, sehingga sering tidak tertib dan suka membuang sampah sembarangan. Bimbinglah mereka untuk menjaga ketertiban di bandara. Banyak juga penumpang yang sudah lelah akibat perjalanan darat yang sangat panjang menuju Sepinggan.

Tidak sedikit yang dari perkebunan maupun lokasi tambang di ujungnya Kutai Timur. Tidak bisakah mereka disediakan kamar mandi agar bisa membersihkan dan menyegarkan diri sebelum naik pesawat? Budaya baru yang semuanya baik itu, tentu akan sangat berkesan bagi setiap penumpang. Mereka pasti suka menceritakannya kepada para kenalannya di daerahnya masing-masing.

Budaya baru yang membuat hidup lebih nyaman bisa dimulai dari sebuah bandara, yang tentu saja dikelola dengan sangat baik. Kita menunggu dengan sabar, saatnya orang tidak hanya membanggakan Bandara Changi Singapura. Tetapi juga bandara baru Balikpapan, dengan budaya barunya. Selamat membangun kebanggaan-kebanggaan baru negeri kita.(zam@kaltimpost.net/che/k7)

Sumber: http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/54075/bandara-baru-budaya-baru.html

 

 

Previous articleMelalui Bandara Tuanku Tambusai, Susi Air Buka Penerbangan Perdana Rute Pasirpangaraian-Pekanbaru
Next articleHotel Baru Bakal Hadir di Bandara Soekarno Hatta