BALI – Angkasa Pura Airports berhasil meraih Rating Gold dalam ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2019 yang diselenggarakan oleh National Center for Sustainability Reporting (NCSR). Piala penghargaan diserahkan langsung oleh Regional Head ASEAN Hub at Global Reporting Initiative (GRI) Singapura, Michele Lemmens kepada Stakeholder Relation and BOD Secretary Senior Manager Angkasa Pura Airports, Gede Eka Sandi Asmadi dan disaksikan oleh Menteri RISTEK/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro di Nusa Dua – Bali, Sabtu, (23/10) pagi.

“Raihan Rating Gold ini merupakan apresiasi atas komitmen Angkasa Pura Airports dalam menjalankan bisnis kebandarudaraan yang berkelanjutan dan senantiasa berkontribusi positif terhadap pelestarian lingkungan hidup, memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sebagaimana mengacu pada standar Global Reporting Initiative (GRI) sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah ditentukan oleh PBB dan disepakati oleh Pemerintah RI,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura Airports, Faik Fahmi.

“Dalam mendukung Sustainable Development, ada 3 aspek penting yang harus menjadi perhatian perusahaan, yaitu Profit, People, dan Planet. Profit dimana untuk mendapatkan profit besar tidak lagi hanya mengandalkan business as usual melalui langkah efisiensi tapi juga harus berinovasi (be innovated) dan terus berinovasi (keep innovating). People dimana perusahaan harus terus berinvestasi untuk meningkatkan kompetensi human resource nya. Planet yaitu perusahaan harus berkontribusi positif bagi lingkungan. Untuk itu saya sangat mendukung para perusahaan untuk terus berinovasi dalam mendukung Sustainable Development Goals,” kata Menteri RISTEK/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro.

Komitmen Angkasa Pura Airports terhadap kelestarian lingkungan hidup dan proses bisnis berkelanjutan tidak hanya ditunjukkan melalui berbagai kegiatan yang mendukung pelestarian lingkungan di wilayah bandara seperti konservasi dan edukasi lingkungan hidup. Lebih dari itu, Angkasa Pura I menerapkan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan hidup pada proses bisnisnya agar terwujud proses bisnis yang berkelanjutan.

“Kegiatan pengembangan dan pengelolaan bandara oleh Angkasa Pura Airports harus membawa manfaat sosial dan manfaat lingkungan hidup bagi masyarakat sekitar bandara. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi dampak lingkungan hidup dalam jangka panjang, kami berkomitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip eco-airport dan prinsip perusahaan berkelanjutan pada operasional dan pengembangan bandara Angkasa Pura Airports,” ucap Faik Fahmi.

Angkasa Pura Airports telah mengenalkan konsep bandara ramah lingkungan (eco-friendly airport) melalui terminal baru Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang yang diikuti pengimplementasian secara penuh standar ISO 14001 terkait lingkungan oleh Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Angkasa Pura Airports juga telah memasukkan strategi lingkungan hidup ke dalam program-program corporate social responsibility (CSR) seperti penanaman pohon, penanaman terumbu karang, dan lainnya.

Beberapa inisiatif pada kegiatan operasional yang berbasis lingkungan yang dilakukan Angkasa Pura Airports antara lain:

  • Melakukan pelaporan karbon yang dihasilkan di semua 13 bandara melalui platform ACERT (ACI’s Airport Carbon and Emissions Reporting Tool) setiap 6 bulan. Platform ini memudahkan Angkasa Pura Airports dalam mereview pengelolaan energi.
  • Melakukan Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dalam setiap pembangunan di kawasan bandara, baik kawasan sisi darat (landside) maupun sisi udara (airside).
  • Menyediakan instalasi fasilitas pengelolaan air hujan, daur ulang air limbah, pengukuran emisi kendaraan, dan pengelolaan sampah/ waste management.
  • Implementasi konsep arsitektur penerangan terminal pada bandara dan terminal bandara baru.
  • Instalasi LED floods lights untuk penerangan area apron, sistem sensor pada peralatan, panel surya, dan pendingin dengan bantalan magnetic sentrifugal. Semua ini digunakan sebagai solusi alternatif dalam penghematan energi.
  • Angkasa Pura Airports juga melakukan kajian habitat management untuk memastikan pembangunan dan operasional bandara tidak mengganggu biodiversity dan memitigasi bahaya (hazard) yang ditimbulkan oleh kehadiran hewan liar di kawasan bandara.

ASSRAT diinisiasi oleh National Center for Sustainability Reporting (NCSR), lembaga di Indonesia yang terafiliasi dengan organisasi Global Reporting Initiative (GRI) yang berpusat di Belanda. “ASSRAT memberikan rating dalam 4 peringkat yaitu Platinum (paling tinggi), Gold, Silver dan Bronze (paling rendah) kepada perusahaan-perusahaan terbaik yang    telah    berhasil mengkomunikasikan    kinerja keberlanjutan     kepada    pemangku kepentingan    melalui    laporan keberlanjutan,” tambah Ketua NCSR, Ali Darwin.

Tahun     ini,    proses    penilaian    laporan    dilakukan    oleh    50    assessor,    yang    merupakan    dosen     dari    berbagai     perguruan    tinggi di Indonesia dan telah memiliki sertifikat spesialis laporan berkelanjutan yang dikeluarkan oleh NCSR. Adapun peserta    ASRRAT tahun    ini     berjumlah    50    perusahaan    terdiri    dari    Indonesia 41 organisasi/perusahaan, Bangladesh 2 perusahaan,    Malaysia 3    perusahaan, Singapore 2 perusahaan dan Filipina 2 perusahaan.

“Hasil rating yang diperoleh ini dapat digunakan oleh instansi lain seperti Kementerían Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menilai keandalan aspek lingkungan suatu perusahaan. Untuk pihak Bank, rating ini mampu menilai sampai sejauh mana risiko lingkungan dan risiko sosial suatu perusahaan harus diperhitungkan dalam pemberian kredit,” jelas, Ali Darwin. [AD]