Maluku memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Entah ada magnet apa, rasanyaMaluku sebagai mutiara hitam dari Timur, punya segudang cerita yang selalu menarik. Kali ini cerita datang dari Kepulauan Kei yang berdiam di sebelah TenggaraMaluku. Bahkan, saking amazing-nya Kepulauan Kei, penulis Karl Muller mengatakan “No beach in the world surpass the powderfine sand of the Kei archipelago.

Legenda Suku Kei

Jika Travel lads mengunjungi Tanat Evav (red: sebutan Pulau Kei oleh masyarakat setempat), rasanya kamu akan pulang dengan banyak sekali cerita yang siap dibagi hingga ke anak cucu! Karena di Kei, ada segudang legenda yang bertebaran di berbagai sudut. Tidak percaya? Kamu akan langsung terdiam ketika mulai menelusuri relief-relief misterius di dinding Pantai Ohoidertawun, legenda di balik Goa Hawang, sampai monumen peringatan sejarah.

Pantai ngurtafur di kepulauan Kei

Pantai Ngurtafur di kepulauan Kei (photo by: indonesia.travel)

Penduduk kepulauan Kei hampir tidak memiliki catatan sejarah tertulis. Suku Kei merekam sejarahnya lewat Tom-Tad, yaitu hikayat-hikayat yang dilengkapi dengan benda-benda sejarah sebagai pembuktiannya. Seperti hikayat seorang laki laki bersama dua ekor anjingnya yang dikutuk menjadi batu karena mengumpat setelah meminum air di Goa Hawang.

Selain hikayat, Kei juga punya hukum adat yang keras. Menurut legenda yang beredar, leluhur Kei berasal dari Bal (Bali), wilayah kerajaan Majapahit di kawasan Barat Nusantara. Konon dua perahu utama berlayar dari pulau Bali, masing-masing dinahkodai oleh Hala’ai Deu dan Hala’ai Jangra. Setibanya di kepulauan Kei, dua perahu ini berpisah. Perahu rombongan Jangra menepi di Desa Ler-Ohoylim, Pulau Kei Besar dan perahu rombongan Deu berlabuh untuk pertama kalinya di Desa Letvuan, Pulau Kei Kecil.

Letvuan kemudian dipilih untuk menjadi pusat pemerintahan, tempat dikembangkannya hukum adat Larvul Ngabal (darah merah dan tombak Bali). Nah, hukum adat Larvul Ngabal inilah yang juga menjadikan Kei sebagai tempat yang paling damai di Maluku. Hukum adat ini yang menjaga tali persaudaraan di Kei. Saat perang saudara meletus di Ambon dan memakan waktu beberapa tahun untuk kembali damai, Kei hanya butuh hitungan bulan untuk kembali pada kehidupan normal. Betapa warisan leluhur tidak hanya terlihat kasat mata dalam bentuk Tom-Tad, tapi juga lewat adat istiadat kehidupan suku Kei.

Bermain di Cantiknya Pantai Kei

Saya sungguh kehabisan kalimat terbaik untuk memuji bagaimana pemandangan pantai-pantai yang ada di Pulau Kei. Yang pasti Travel lads wajib bertelanjang kaki menyusuri tepi Pantai Ngurbloat atau lebih dikenal dengan nama Pantai Pasir Panjang. Karena pasir pantainya yang halus, sehalus tepung, dengan laut biru luas. Hanya ada tiga kata untuk pantai ini “Jatuh Cinta Seketika”.

Selain di Pasir Panjang, ada Pantai Ohoidertawun. Air laut di sekitar pantai ini sangat dangkal sehingga disaat air surut, bibir pantai terlihat seakan menyentuh kaki langit. Nah, di sini jika Travel lads mencoba naik perahu, di tepian pantai, bisa melihat gambar-gambar misterius dan simbol berwarna merah yang terdapat di dinding batu di permukaan pantai, tergantung pasang surutnya air laut.

Burung Pelikan di Pantai Ngurtafur

Burung Pelikan di Pantai Ngurtafur

Sepertinya Tuhan sedang memberikan bocoran seperti apa rupa surga dengan menciptakan  Pulau Kei. Di sini tidak hanya ada dua pantai yang membuai kamu. Ada juga Pantai Ngurtafur yang memiliki pantai gosong memanjang ke tengah lautan tanpa putus sepanjang 2 km dan lebar 7 meter. Rasanya seperti sedang berjalan di tengah lautan luas! Di sini juga ada tabob atau penyu belimbing, penyu jenis ini dilindungi dan memiliki penangkaran di sekitar pantai yang dikelola oleh WWF.  Jika Travel lads cukup beruntung, kamu bisa berjumpa dengan burung australian pelikan yang sedang bermigrasi ke Maluku dari tempat tinggal mereka di Australia dan Papua New Guinea. Rasanya tidak salah bukan jika saya menyebut Pulau Kei adalah destinasi yang wajib dikunjungi :D .