Menteri Nasir : Saya Siap Kawal Produksi Pesawat N219

63

Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi Muhammad Nasir mengaku siap mengawal PT Dirgantara Indonesia dalam memproduksi pesawat N219. Pihaknya pun menginginkan proyek pembuatan pesawat terbang N219 bisa dipercepat lagi.

“Target kami tahun 2016 sudah bisa diwujudkan. Jika sudah bisa dilaksanakan tahun 2016 berarti menandakan kebangkitan kedirgantaraan Indonesia. Sampai saat ini kami masih melakukan pengurusan surat sertifikasi pembuatan dan pengoperasian pesawat tersebut,” kata Nasir disela kegiatan kunjungan ke Solo Tekno Park (STP), Selasa (24/3/2015).

Apalagi, pesawat terbang yang 100% dirancang putra dan putri terbaik Indonesia ini bakal menjangkau antar kota dengan kota lainya, dengan jarak tempuh sekitar 200 kilometer.

Bahkan, pesawat N219 memiliki kelebihan bisa lepas landas dalam jarak yang pendek. N219 adalah proyek yang dikerjakan sejak dirancang sejak 2007.

Nasir menuturkan, pesawat N219 ini sangat menjanjikan karena ke depan banyak dibutuhkan penerbangan antar kota ke kota khususnya daerah terpencil.

Dengan kemampuan mengangkut 19 penumpang, diharapkan dengan kehadiran N219 ini, jarak penerbangan antar pulau yang tadinya sulit terjangkau bisa diatasi.

Disinggung harga satu unit pembuatan pesawat, Nasir menjelaskan, untuk satu unit pesawat jenis riset dihargai sekira Rp120-Rp150 miliar. Akan tetapi, harga jual secara ekonomis mencapai Rp70 miliar.

“Jelas pesawat ini lebih murah dan lebih ekonomis ketimbang pesawat buatan luar negeri. Prototipe sudah selesai, saat ini tinggal pembuatan sertifikasinya saja. Mudah-mudahan tahun 2015 ini (sertifikasi) sudah jadi,” harapnya.

Target awal proyek ini, prototipe pesawat sudah selesai dan dipamerkan pada Agustus 2015. Setelah itu, pesawat akan menjalani penerbangan pertamanya (first flight) pada 2016.

Pesawat N219 yang mengandung komponen lokal mencapai 60% ditargetkan bisa masuk pasar pada 2017, setelah memasuki proses sertifikasi.

Baca juga:  Penerbangan Pindah ke Halim, Penumpang Siap Kena Delay

“Dua negara, Thailand dan Filipina sudah menyatakan diri tertarik dengan keberadaan pesawat terbang jenis N219 tersebut. Namun, kami belum ada pemikiran untuk kesana, karena distribusi ke dalam negeri saja belum mencukupi,” pungkasnya.

 

Sumber

Previous articleSulit Mencari Waktu Berlibur Bersama Keluarga? Ini Dia Caranya
Next articlePersonil Trio Libels Meninggal di Soekarno-Hatta