Berkonsep Eco Terminal, Gunakan Panel Surya untuk Cadangan Energi

Terminal baru bandara Supadio memadukan konsep modern sekaligus ramah lingkungan. Modern karena bandara ini dirancang menyamai bandara seperti Suvarnabhumi di Bangkok. Ramah lingkungan karena cadangan listriknya sebagian akan dipenuhi dari panel surya.

Sudah lama warga Kalimantan Barat merindukan bandara yang modern dan memiliki fasilitas memadai. Kini keinginan itu tidak lama akan terwujud. Dalam hitungan bulan, pembangunan terminal tahap satu sudah akan rampung. Angkasa Pura menargetkan pada bulan Juni tahun depan terminal ini sudah bisa dioperasikan.

Pontianak Post mendapat kesempatan melihat langsung pembangunan terminal ini pada Rabu lalu. General Manager Bandara Supadio Chandra Dista Wiradi berbaik hati menjadi “guide” saat berkeliling di lokasi proyek. Dengan detail dia menjelaskan berbagai tahapan pembangunan bandara.

Kami naik ke lantai dua. Terlihat semua pondasi sudah terpasang. Demikian pula dengan lantainya. Rangka bagian atas juga sudah selesai. Tak lama lagi para pekerja akan memasang atap di atas rangka besi berwarna putih itu. Di sanalah nanti panel-panel surya akan dipasang. Panel surya ini diharapkan akan mampu memenuhi sekitar 20 persen dari total energi listrik yang digunakan.

Namun, pemasangan panel ini harus ditempatkan di lokasi yang tepat. Sebab jika tidak, panel surya ini bisa saja menyilaukan pandangan yang dapat mengganggu aktivitas penerbangan. ”Karena itu kita akan pilih lokasi pemasangannya, mungkin di sisi luar yang tidak menghadap langsung landasan,” jelas Chandra.

Energi listrik yang dihasilkan dari panel surya ini akan disimpan dalam sebuah ’baterai’. Dengan begitu listriknya bisa digunakan pada malam hari terutama untuk kebutuhan non priority seperti penerangan di terminal. Untuk kebutuhan listrik priority seperti penerangan di landasan pasokannya jelas tetap dari PLN. Namun demikian, sebagai antisipasi jika listrik anjlok, Angkasa Pura tetap akan menyiapkan genset yang mampu menghasilkan listrik hingga 3000 KvA.

Gagasan untuk menggunakan panel surya ini bukan tanpa alasan. Belakangan ini pasokan listrik sering anjlok. Padahal ketersediaan listrik yang terus menerus adalah sesuatu yang sangat vital bagi sebuah bandara. ”Paling tidak saat listrik anjlok kita punya listrik cadangan,” ujar Chandra.

Di bandara-bandara lain yang berkonsep eco terminal, penggunaan panel surya ini sudah cukup lazim. Kebanyakan mampu menghasilkan sekitar 20 persen dari total penggunaan listrik non priority.

Konsep eco terminal juga diterapkan pada sisi arsitektur. Misalnya saja dengan meminimalkan penggunaan listrik di siang hari. Gedung dirancang sedemikian rupa sehingga cahaya matahari bisa masuk dan menggantikan cahaya lampu. Caranya mudah. Dinding yang biasanya menggunakan beton diganti menjadi kaca. “Jadi kalau siang kita pakai cahaya matahari. Kalau malam kita manfaat baterai,” kata Chandra.

Proses pembangunan terminal tahap satu ini direncanakan akan selesai pada Juni tahun depan. Begitu terminal jadi, penumpang akan langsung dipindahkan ke terminal baru. Sementara itu terminal lama akan dibongkar untuk dibangun terminal tahap dua.

Terminal tahap satu ini akan mampu menampung 3,8 juta penumpang pertahun atau lima kali lipat dari terminal lama yang hanya 700 ribu pertahun. Luas terminal juga bertambah dari 6900 meter persegi menjadi 12 400 meter persegi. “Tapi itu baru terminal tahap satu. Jika terminal tahap dua selesai, secara keseluruhan kita akan memiliki terminal dengan luas 32 ribu meter persegi,” ungkapnya.

Akbar Putra Mardhika, kepala proyek pembangunan bandara yang pagi itu ikut menemani mengatakan, pembangunan keseluruhan terminal akan diselesaikan secara bertahap pada 2015 mendatang. Pembangunan proyek ini memang tidak bisa dilakukan sekaligus. Pembangunan bandara yang masih dioperasikan, kata Akbar, lebih sulit dibandingkan dengan membangun bandara yang sama sekali baru.

“Itulah tantangannya. Harus step by step. Kita juga harus berhati-hati. Satu kabel saja putus. Itu akan berpengaruh pada seluruh aktivitas bandara. Beda dengan pembangunan bandara baru. Itu lebih mudah,” ujar Akbar, putra daerah lulusan IPB itu.

Baik Chandra maupun Akbar sama-sama optimistis proses pembangunan bandara ini bisa diselesaikan sesuai rencana. ”Sebelumnya memang ada sedikit keterlambatan, karena sejumlah faktor teknis. Misalnya saja soal pengiriman bahan yang sebagian besar dari Jakarta. Tapi kami belajar dari keterlambatan yang lalu agar tahap selanjutnya sesuai jadwal,” kata Akbar.

Terminal baru ini akan dilengkapi garbarata untuk meningkatkan layanan pada penumpang. Ada empat garbarata yang akan dipasang. Pada tahap pertama akan dipasang dua garbarata terlebih dahulu. Sisanya, dua lagi, akan dipasang pada pembangunan tahap dua. Di bandara-bandara internasional, garbarata ini sudah sangat lazim digunakan. Dengan pemasangan garbarata ini penumpang akan bisa langsung memasuki pintu pesawat tanpa perlu repot-repot naik tangga pesawat. **

Heriyanto, Pontianak