Rupiah Melemah, Industri Penerbangan Khawatir

54

Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) menyatakan industri penerbangan takut pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus berlanjut hingga tembus Rp 13.500. Industri penerbangan belum bisa menaikkan tarif karena tarif batas atas masih mengacu ke asumsi kurs Rp 13 ribu.

“Itu yang kami takutkan,” kata Sekretaris Jenderal INACA Tengku Burhanuddin di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa, 10 Maret 2015.

Menurut Tengku, komponen ongkos produksi maskapai yang terdampak langsung dari pelemahan rupiah adalah asuransi pesawat sebesar 40 persen dan harga avtur. Harga minyak mentah dunia, kata Tengku, memang sedang turun. Namun pelemahan rupiah tetap menyulitkan industri penerbangan.

“Garuda Indonesia sudah hedging Rp 1 triliun. Tapi tak semua maskapai melakukan hedging karena itu berisiko,” kata Tengku.

Kemarin, kurs jual di Bank Indonesia sudah menyentuh Rp 13.124. Adapun kurs tengah pada hari ini di Bank Indonesia menyentuh Rp 13.059.

Ekonom dari Bank Central Asia, David Sumual, mengatakan pergerakan rupiah yang menembus angka psikologis Rp 13 ribu per dolar merupakan konsekuensi dari target pemerintah yang memasang pertumbuhan ekonomi tinggi. Di sisi lain, pemerintah juga menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah sebesar 5,7 persen akan berimbas pada peningkatan impor. Sedangkan rendahnya bunga akan berdampak pada capital outflow. Peningkatan impor akan diiringi defisit pelemahan rupiah.

Selama ini, menurut David, salah satu daya tarik bagi investor luar adalah suku bunga tinggi di dalam negeri. Jika pemerintah menurunkan suku bunga, maka kondisi rupiah semakin tergantung pada kondisi eksternal, khususnya Amerika.

 

Sumber

Baca juga:  Bandara I Gusti Ngurah Rai Gandeng Skytrax Untuk Sejajarkan Diri
Previous articleEmirates Buka Penerbangan Langsung Dubai ke Bali
Next articleBerbagi Tips Hemat Saat Liburan