Home Blog Page 323

Bandara Raja Ampat Ditargetkan Siap Akhir Desember

Waisai – Festival Raja Ampat 2013 telah siap menerima serbuan turis dari berbagai daerah. Untuk mendukung fasilitas wisata yang ada, infrastruktur terus ditingkatkan, termasuk Bandara Raja Ampat yang siap digunakan Desember ini.

“Kami sedang membangun sebuah bandara mencapai 1.200 meter,” Bupati Kabupaten Raja Ampat, Marcus Wanma dalam Welcome Dinner Festival Raja Ampat bertempat di Restoran Phuyakha Mengge, Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (17/10/2013) malam.

Diharapkan, lanjut Marcus, sudah bisa dijalani pesawat pada Desember 2013. Pesawat ukuran sedang pun direncanakan bisa mendarat di sana.

“Tadi kami baru meresmikan pengaspalan,” ungkap Marcus.

Pengaspalan ini dilakukan untuk seluruh bandara, yakni seluas 1.200 meter. Semoga saja hal itu semakin memudahkan traveler untuk berlibur ke pulau surgawi ini.

Putri Rizqi Hernasari – detikTravel

Hup! Hup! Kangguru Lompat-lompat di Terminal Bandara Melbourne

Polisi Australia harus mengunci sebagian bandar udara Melbourne setelah kangguru yang terluka berhasil kabur dan melompat-lompat ke terminal.

Kangguru tersebut mengejutkan pengunjung di toko farmasi sebelum akhirnya ditangkap oleh relawan satwa liar, demikian menurut sebuah laporan.

Kangguru yang diberi nama Cyrus ini ditenangkan dan ditangkap dengan aman.

Bandara Melbourne memang berada di area yang memiliki banyak populasi kanguru.

Diduga kanguru ini melompat ke terminal setelah tertabrak mobil di jalan.

“Dia memiliki luka di kakinya saat ini, cakarnya juga cukup terluka karena sepertinya habis melompat-lompat di permukaan aspal,” kata relawan satwa liar Ella Rountree kepada Associated Press.

Johnson Law, yang bekerja di toko farmasi itu mengatakan ia awalnya tidak percaya saat rekan kerjanya mengatakan bahwa ada kanguru di toko.

“Saya terus melakukan apa yang saya lakukan, ya, saya pikir itu adalah lelucon,” katanya kepada AP.

Kanguru akan dibawa ke dokter hewan untuk diperiksa, kata Wildlife Victoria dalam sebuah pernyataan.

Hewan ini diketahui kadang-kadang menyusup ke bandara, meskipun wilayah itu dijaga untuk mencegah mereka mengganggu penerbangan pesawat.

Sebelumnya, diberitakan kanguru juga pernah menyerang seorang perempuan berusia 94 tahun di halamannya di Queensland, Australia.

(bbc/bbc)

Sadengan, Satu Lagi ‘Afrika’ di Pulau Jawa

Banyuwangi – Africa van Java tak hanya di Taman Nasional Baluran saja. Coba datang ke Sadengan di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Di sana terhampar padang savana luas dengan banyak banteng Jawa, rusa, dan burung merak!

Traveler pasti tahu Taman Nasional Baluran di Situbondo dengan pemandangan savana bak Afrika. Tapi, padang savana juga ada di Sadengan, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jatim. Bahkan, Sadengan disebut-sebut lebih mirip Afrika karena banyaknya satwa liar di sana.

“Kalau padang savana, memang lebih luas di Baluran. Tapi, kalau soal banyaknya satwa lebih banyak di Sandengan ini. Ada banteng Jawa, burung merak, dan rusa yang mudah dilihat,” ujar ranger di Pos Sandengan, Suparno kepada detikTravel dan rombongan Raja Wisata, Sabtu (19/10/2013).

Suparno pun mengajak rombongan untuk melihat kawanan satwa di padang savana seluas 84 hektar ini. Di depan mata, ada bentangan padang savana yang sangat luas berwarna hijau. Di bagian belakang dari pintu masuknya, ada perbukitan hijau yang ditumbuhi pepohonan lebat. Pemandangan nan cantik!

Sekitar 10 meter memasuki padang savana, rombongan dikejutkan oleh kawanan banteng. Jaraknya mungkin sekitar 20 meter, tapi tanduknya yang runcing seperti huruf ‘u’ terlihat jelas. Warnanya ada yang cokelat dan hitam. Mereka sedang asyik memakan rumput dan beberapa ada yang mengawasi gerak-gerak peserta rombongan.

“Itu banteng Jawa, nama latinnya bos javanicus. Banteng berwarna hitam itu yang jantan, kalau yang cokelat itu betina. Tahun 2012, populasi mereka di Sadengan ini ada 125 ekor,” ungkap Suparno.

Ketika rombongan makin dekat, kawanan banteng pun berjalan menjauh. Rupanya tak hanya banteng, tapi juga ada rusa-rusa di sekitar mereka. Kedua satwa ini sepertinya sedang menikmati santap siang bersama. Tanduk rusa jantannya pun terlihat panjang, runcing, dan juga bercabang.

“Rusa itu lebih sensitif daripada banteng. Mereka bakal lari lebih cepat kalau ada wisatawan yang coba mendekat,” tutur Suparno.

Peserta rombongan harus memainkan tombol zoom dari kamera mereka untuk mendapat angle terbaik. Kawanan rusa dan banteng yang berkeliaran bebas, sangat mudah untuk ditemukan. Hanya saja, Anda harus hati-hati melangkah agar tidak menginjak kotoran-kotoran mereka. Tapi, ada di mana burung merak?

“Kalau burung merak biasanya hanya keluar pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Sekitar pukul 10.00 WIB, mereka sudah hinggap di pohon lagi karena tak tahan oleh panas,” ujar Suparno menjelaskan.

Sadengan ini berada di sekitar 2 kilometer dari pintu masuk Pos Rawa Bendo, Taman Nasional Alas Purwo. Traveler yang mau menyewa ranger untuk menemani berkeliling Sadengan, hanya dikenakan biaya sukarela saja. Pasti, Anda sangat puas dan takjub kalau pemandangan ala Afrika ini justru ada di Pulau Jawa bagian timur.

Tak sampai di situ, rupanya ada satu satwa liar lagi yang berkeliaran bebas di Sadengan yaitu ajag atau yang biasa disebut anjing hutan. Sebabnya, salah satu peserta rombongan secara tak sengaja menemukan bangkai yang diperkirakan anak banteng yang sudah berupa tulang-belulang.

“Memang ada juga anjing hutan seperti serigala di sini dan mereka biasanya menyerang anak banteng atau rusa hanya pada malam hari saja,” kata Suparno.

Padang savana yang luas, kawanan banteng, rusa, burung merak, dan anjing hutan, selamat datang di Afrika! Eh bukan, di Sadengan!

Afif Farhan – detikTravel

Segaro Anak, Sungai Amazon ala Banyuwangi

Banyuwangi – Bayangkan, menyusuri hutan mangrove lebat dengan menggunakan boat. Tak ada manusia, hanya suara serangga dan burung berterbangan. Ini bukan di Sungai Amazon, tapi ini di Segaro Anak, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi!

Segaro Anak sejatinya adalah kawasan hutan mangrove yang ada di EkoWisata Mangrove Blok Bedul, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Kawasan hutan mangrove ini punya luas hingga 1.000 hektar lebih.

detikTravel berkesempatan menjelajahi Taman Nasional Alas Purwo pada Jumat (18/10/2013) lalu bersama rombongan dari Raja Wisata. Tak hanya menjelajahi hutan, kami ditawarkan untuk naik boat atau yang biasa disebut Gondang-gandung untuk menyusuri kawasan hutan mangrove Segaro Anak.

“Segaro Anak membentang sepanjang 15 kilometer. Kita punya paket untuk menyusurinya dengan boat dengan harga sewa Rp 200 ribu-260 ribu tergantung jauhnya,” kata pemandu wisata Taman Alas Purwo, Ika Khusnul Khatimah.

Kami berempat ditemani tiga pemandu langsung menuju boat yang letaknya tak jauh dari pintu masuk Taman Nasional Alas Purwo. Setibanya di Segaro Anak, kami semua takjub oleh sungai yang besar dan hutan mangrove yang hijau dan lebat di sisinya, yang terpisah jarak puluhan meter. Belum lagi, awannya pun sangatlah bagus. Wow!

“Segaro Anak ini sebenarnya adalah muara karena pertemuan air laut dan air tawar. Jadi, airnya payau,” tutur Ika.

Semua peserta rombongan langsung sibuk membidik angle terbaik dalam kamera. Pemandangannya memang membuat siapa pun terkesima. Airnya pun tenang, bagaikan cermin raksasa yang memantulkan objek di atasnya.

“Kedalaman airnya bisa sampai 3-7 meter. Di sini tidak ada penduduk yang tinggal, tapi masyarakat sekitar biasa menangkap udang atau ikan di sini,” ungkap Ika.

Panasnya cuaca terik tak mampu mengalahkan rasa antusias kami. Lalu, boat meluncur ke Sungai Kere yang masih jadi bagian Segaro Anak. Di sinilah lebar sungai lebih sempit dan jarak antara pepohonan mangrove dan boat sangat dekat.

Boat seolah membelah hamparan pepohonan mangrove. Airnya berwarna cokelat pekat. Suara serangga dan burung pun makin terdengar jelas. Ditambah dengan pemandangan di depan mata, rasanya luar biasa Indonesia punya tempat sekeren ini!

“Kalau dibilang Amazon, banyak kok turis yang bilang begitu,” tutur Ika.

Ada beberapa gubuk kecil dan perahu nelayan di tepian hutan mangrove. Ika menjelaskan, itu adalah tempat nelayan singgah setelah mencari ikan dan udang. Tetap saja, tak ada satu pun penduduk yang tinggal di sekitarnya.

“Ini benar-benar alami. Paling hanya biawak-biawak saja yang ada di sini,” ucap Ika.

Suasana yang tenang terasa syahdu begitu mata ini tertutup. Jauh dari hiruk pikuk kendaraan dan sinyal ponsel, kami semua seperti berada di tempat antah berantah. Ya, kami benar-benar menyatu dengan alam.

Sekitar 30 menit, akhirnya boat meninggalkan Sungai Kere. Saat perjalanan baik ke dermaga, kami lagi-lagi dibuat takjub. Ada elang yang besar terbang melintas di samping boat!

“Memang masih banyak elang di sini dan masih mudah dijumpai. Turis asing pun paling gemar wisata susur hutan mangrove seperti ini,” ujar Ika.

Saya memang belum pernah ke Amazon dan hanya sebatas melihatnya dari TV, Tapi seperti kata Ika dan yang turis-turis bilang, ini adalah Sungai Amazon di Banyuwangi. Tak percaya? Silakan buktikan sendiri!

Afif Farhan – detikTravel

Cuaca

Bali
overcast clouds
24.3 ° C
24.3 °
24.3 °
82 %
2.2kmh
85 %
Sun
25 °
Mon
28 °
Tue
30 °
Wed
31 °
Thu
29 °

Kurs Rupiah

IDR - Indonesian Rupiah
USD
17,089.3
AUD
11,977.9
EUR
19,956.1
CNY
2,502.8
JPY
107.1
SGD
13,382.0