Banyuwangi – Bayangkan, menyusuri hutan mangrove lebat dengan menggunakan boat. Tak ada manusia, hanya suara serangga dan burung berterbangan. Ini bukan di Sungai Amazon, tapi ini di Segaro Anak, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi!

Segaro Anak sejatinya adalah kawasan hutan mangrove yang ada di EkoWisata Mangrove Blok Bedul, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Kawasan hutan mangrove ini punya luas hingga 1.000 hektar lebih.

detikTravel berkesempatan menjelajahi Taman Nasional Alas Purwo pada Jumat (18/10/2013) lalu bersama rombongan dari Raja Wisata. Tak hanya menjelajahi hutan, kami ditawarkan untuk naik boat atau yang biasa disebut Gondang-gandung untuk menyusuri kawasan hutan mangrove Segaro Anak.

“Segaro Anak membentang sepanjang 15 kilometer. Kita punya paket untuk menyusurinya dengan boat dengan harga sewa Rp 200 ribu-260 ribu tergantung jauhnya,” kata pemandu wisata Taman Alas Purwo, Ika Khusnul Khatimah.

Kami berempat ditemani tiga pemandu langsung menuju boat yang letaknya tak jauh dari pintu masuk Taman Nasional Alas Purwo. Setibanya di Segaro Anak, kami semua takjub oleh sungai yang besar dan hutan mangrove yang hijau dan lebat di sisinya, yang terpisah jarak puluhan meter. Belum lagi, awannya pun sangatlah bagus. Wow!

“Segaro Anak ini sebenarnya adalah muara karena pertemuan air laut dan air tawar. Jadi, airnya payau,” tutur Ika.

Semua peserta rombongan langsung sibuk membidik angle terbaik dalam kamera. Pemandangannya memang membuat siapa pun terkesima. Airnya pun tenang, bagaikan cermin raksasa yang memantulkan objek di atasnya.

“Kedalaman airnya bisa sampai 3-7 meter. Di sini tidak ada penduduk yang tinggal, tapi masyarakat sekitar biasa menangkap udang atau ikan di sini,” ungkap Ika.

Panasnya cuaca terik tak mampu mengalahkan rasa antusias kami. Lalu, boat meluncur ke Sungai Kere yang masih jadi bagian Segaro Anak. Di sinilah lebar sungai lebih sempit dan jarak antara pepohonan mangrove dan boat sangat dekat.

Boat seolah membelah hamparan pepohonan mangrove. Airnya berwarna cokelat pekat. Suara serangga dan burung pun makin terdengar jelas. Ditambah dengan pemandangan di depan mata, rasanya luar biasa Indonesia punya tempat sekeren ini!

“Kalau dibilang Amazon, banyak kok turis yang bilang begitu,” tutur Ika.

Ada beberapa gubuk kecil dan perahu nelayan di tepian hutan mangrove. Ika menjelaskan, itu adalah tempat nelayan singgah setelah mencari ikan dan udang. Tetap saja, tak ada satu pun penduduk yang tinggal di sekitarnya.

“Ini benar-benar alami. Paling hanya biawak-biawak saja yang ada di sini,” ucap Ika.

Suasana yang tenang terasa syahdu begitu mata ini tertutup. Jauh dari hiruk pikuk kendaraan dan sinyal ponsel, kami semua seperti berada di tempat antah berantah. Ya, kami benar-benar menyatu dengan alam.

Sekitar 30 menit, akhirnya boat meninggalkan Sungai Kere. Saat perjalanan baik ke dermaga, kami lagi-lagi dibuat takjub. Ada elang yang besar terbang melintas di samping boat!

“Memang masih banyak elang di sini dan masih mudah dijumpai. Turis asing pun paling gemar wisata susur hutan mangrove seperti ini,” ujar Ika.

Saya memang belum pernah ke Amazon dan hanya sebatas melihatnya dari TV, Tapi seperti kata Ika dan yang turis-turis bilang, ini adalah Sungai Amazon di Banyuwangi. Tak percaya? Silakan buktikan sendiri!

Afif Farhan – detikTravel