Vice President Corporate Communicaton Citilink Benny S. Butarbutar meminta pemerintah memberikan toleransi 3-6 bulan bagi maskapai buat menyiapkan vending machine dan ruang customer service sebagai pengganti loket bandara.
Menurut Benny, waktu itu dibutuhkan untuk membangun satu sistem integral antara reservasi tiket di maskapai, penjualan online, kerja sama perbankan, travel, sampai call center dan perpajakan. “Kalau sistemnya, kan, sudah banyak di pasar internasional. Cuma penyedia mesinnya, kan, satu per satu. Bisa kami lakukan dengan model ATM bersama itu,” kata Benny kepada Tempo, Senin, 9 Februari 2015.
Senior Manager Corporate Communication Sriwijaya Air Agus Soedjono menyatakan vending machine dan ruang customer service dapat menjadi pengganti loket. Menurut Agus, Sriwijaya siap berinvestasi jika maskapai diwajibkan menyediakan vending machine dan ruang customer service itu.
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menyatakan pemerintah mengeluarkan aturan baru untuk memodernkan pelayanan penumpang dengan menghapus loket tiket di bandara. Untuk itu, kata Jonan, maskapai harus berinvestasi menyediakan vending machine, yaitu mesin penjual loket di bandar udara. “Pakai mesin saja,” kata Jonan.
Vending machine itu, kata Jonan, untuk memfasilitasi penumpang yang go show atau yang melakukan connecting flight. Maskapai juga diminta melengkapinya dengan ruang customer service. “Kalau maskapai enggak bisa investasi ini, tutup saja. Jelas enggak ini? Ya, begitu,” kata Jonan.
Sumber















